KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Laju ekonomi Kalimantan Timur melambat pada triwulan I 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2,99 persen secara tahunan (year on year/yoy), turun dibandingkan triwulan IV 2025 yakni 5,04 persen.
Lesunya permintaan ekspor batu bara menjadi faktor utama penahan pertumbuhan, sementara konsumsi masyarakat dan pembangunan proyek masih menjadi penopang ekonomi daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, perlambatan tersebut sejalan dengan kondisi ekonomi regional Kalimantan yang juga mengalami moderasi. Meski begitu, Kaltim tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian Pulau Kalimantan dengan pangsa mencapai 46,48 persen.
Dari sisi lapangan usaha, sektor perdagangan menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Aktivitas belanja masyarakat meningkat selama Ramadan dan Idulfitri, ditambah pembayaran tunjangan hari raya (THR) yang mendorong permintaan barang dan jasa.
Baca Juga: Anak Tak Lolos SPMB 2026 di Sekolah Favorit Kutim? Jangan Panik, Disdikbud Siapkan Siasat Jitu Ini!
Di saat bersamaan, lapangan usaha konstruksi juga tetap tumbuh seiring berlanjutnya pembangunan proyek pemerintah, swasta, maupun pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun, kinerja positif tersebut belum mampu menutupi pelemahan sektor pertambangan. "Sementara itu, lapangan usaha pertambangan dan penggalian tercatat mengalami kontraksi seiring dengan melemahnya permintaan ekspor komoditas batu bara dari negara mitra pada periode laporan," katanya.
Berdasarkan sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Kaltim. Momentum Ramadan dan Idulfitri mendorong peningkatan mobilitas serta belanja masyarakat.
Konsumsi pemerintah juga meningkat, ditopang realisasi belanja pegawai, belanja barang dan jasa, pembayaran THR aparatur sipil negara (ASN), hingga belanja sosial dan operasional pemerintah. Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tetap tumbuh positif seiring berlanjutnya aktivitas konstruksi dan kebutuhan barang modal.
Baca Juga: Banyak yang Buta Risiko, OJK Kaltim-Kaltara Beber Rumus 10-20-30-40 Jinakkan Jerat Pinjol
Meski demikian, Jajang menilai pertumbuhan ekonomi masih tertahan oleh penurunan ekspor komoditas unggulan. "Pertumbuhan ekonomi lebih lanjut tertahan oleh komponen ekspor akibat penurunan kinerja komoditas utama, khususnya batu bara," tutup Jajang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo