KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Lapangan Usaha (LU) Pertambangan dan Penggalian Kalimantan Timur mulai kehilangan tenaga pada triwulan I 2026. Setelah masih tumbuh pada akhir tahun lalu, sektor andalan Bumi Etam itu berbalik terkontraksi 1,19 persen secara tahunan (year on year/yoy), terutama akibat melemahnya ekspor batu bara.
Kontraksi tersebut dipicu turunnya volume ekspor batu bara yang tercatat menyusut 7,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Menurunnya permintaan dari negara mitra dagang utama di tengah terbatasnya kapasitas produksi menjadi faktor utama yang menekan kinerja sektor pertambangan," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan.
Jajang menerangkan, dari sisi produksi, implementasi kebijakan penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) membuat aktivitas produksi maupun pengiriman batu bara belum berjalan optimal. Di saat bersamaan, pelemahan permintaan dari pasar ekspor semakin memperbesar tekanan terhadap sektor pertambangan.
Kondisi tersebut diperparah oleh mulai pulihnya produksi batu bara domestik di Tiongkok. Pada triwulan I 2026, produksi batu bara negara tersebut kembali membaik setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Meningkatnya pasokan dalam negeri membuat kebutuhan impor Tiongkok berkurang sehingga ekspor batu bara Indonesia ikut tertahan.
Meski demikian, pembiayaan terhadap sektor pertambangan masih menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit ke sektor ini tercatat tumbuh 22,04 persen (yoy) pada triwulan I 2026. Namun, peningkatan pembiayaan tersebut belum mampu mengangkat produksi maupun ekspor yang masih dibayangi lemahnya permintaan global.
"Peningkatan pembiayaan tersebut belum sepenuhnya terefleksikan pada perbaikan produksi dan kinerja ekspor batu bara yang masih menghadapi tekanan dari sisi permintaan eksternal dan penyesuaian produksi domestik," kata Jajang.
Selain faktor permintaan, cuaca juga menjadi hambatan. Curah hujan melonjak 41,11 persen (yoy) dengan rata-rata mencapai 278,3 milimeter per bulan selama triwulan I 2026. Tingginya intensitas hujan menghambat aktivitas penambangan, hauling, hingga pengiriman batu bara sehingga produksi belum dapat berlangsung optimal.
Akumulasi tekanan dari sisi eksternal, penyesuaian produksi, dan faktor cuaca membuat sektor pertambangan Kaltim belum mampu kembali ke jalur pertumbuhan pada awal 2026. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo