KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan Kalimantan Timur tetap mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan I 2026. Namun, lajunya mulai melandai setelah sempat melonjak tinggi pada akhir tahun lalu.
Dijelaskan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan, sektor industri pengolahan tumbuh 3,11 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 13,89 persen.
Menurut dia, perlambatan tersebut lebih dipengaruhi proses normalisasi pertumbuhan setelah sektor industri mencatat ekspansi tinggi dalam beberapa periode terakhir. Selain itu, pengaruh efek basis rendah pada tahun sebelumnya juga mulai berkurang.
"Meski demikian, sektor industri pengolahan masih mencatatkan pertumbuhan yang positif, didukung oleh berlanjutnya aktivitas produksi subsektor pengolahan migas sejalan dengan mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan secara bertahap," terangnya.
Aktivitas industri juga masih ditopang kebutuhan bahan baku yang tetap tinggi. Hal itu terlihat dari volume impor bahan baku yang tumbuh 13,89 persen (yoy), seiring meningkatnya kebutuhan pasokan untuk pengolahan migas setelah bertambahnya kapasitas kilang RDMP RU V Balikpapan.
Meski demikian, pemulihan industri pengolahan belum merata. Sejumlah subsektor nonmigas masih menghadapi tekanan. Salah satunya terlihat dari volume ekspor crude palm oil (CPO) yang masih terkontraksi 7,23 persen (yoy), meski kondisinya lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 15,07 persen.
Selain itu, nilai impor bahan baku dan barang modal juga masih mengalami kontraksi masing-masing 13,20 persen (yoy) dan 30,57 persen (yoy). "Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas investasi dan sebagian proses produksi pada subsektor lainnya masih belum sepenuhnya pulih," kata Jajang.
Baca Juga: Tarik Ulur Penambahan Nomor Tanding Porprov 2026, Ini Jawaban Dispora Kaltim
Menurut BI, kondisi tersebut menunjukkan sektor industri pengolahan Kaltim masih memiliki daya tahan berkat penguatan subsektor migas. Namun, pemulihan yang lebih merata masih bergantung pada membaiknya kinerja industri nonmigas dan aktivitas investasi di sektor pengolahan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo