KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Lapangan Usaha (LU) Konstruksi Kalimantan Timur kembali tumbuh positif pada triwulan I 2026 setelah sempat terkontraksi pada akhir tahun lalu. Berlanjutnya pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi salah satu penggerak.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, sektor konstruksi tumbuh 3,57 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut membaik dibandingkan triwulan IV 2025 yang masih mengalami kontraksi 2,69 persen.
"Perbaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya realisasi anggaran pembangunan IKN yang tumbuh sebesar 108,23 persen (yoy), didorong oleh berlanjutnya pembangunan Tahap II IKN, khususnya pembangunan kawasan lembaga legislatif dan yudikatif," ujarnya.
Baca Juga: Rencana Pengembangan Pelabuhan Loktuan di Bontang, Investasi Diperkirakan Capai Rp300 Miliar
Selain pembangunan IKN, aktivitas konstruksi juga ditopang penyelesaian sejumlah proyek strategis nasional. Di antaranya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan, pembangunan pabrik Soda Ash, hingga berbagai proyek peningkatan dan pemeliharaan jalan untuk mendukung kelancaran arus mudik serta distribusi barang menjelang Idulfitri.
Perbaikan sektor konstruksi juga tercermin dari mulai membaiknya kebutuhan material bangunan. Meski masih mengalami kontraksi, penurunan volume pengadaan semen tidak sedalam periode sebelumnya. Pada triwulan I 2026, volume pengadaan semen terkontraksi 17,37 persen (yoy), membaik dibandingkan kontraksi 20,48 persen pada triwulan IV 2025.
"Meskipun masih berada pada zona kontraksi, perkembangan tersebut mengindikasikan bahwa permintaan material konstruksi mulai menunjukkan perbaikan sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan di wilayah Kaltim," kata Jajang.
Berlanjutnya pembangunan proyek strategis nasional, proyek swasta, dan infrastruktur pendukung IKN menjadi penopang utama sektor konstruksi. Kondisi tersebut turut menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada awal 2026 meski sejumlah sektor lain masih menghadapi tekanan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo