Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Bukan dari Pemerintah! Okupansi Hotel di Balikpapan Tembus 58 Persen Juni 2026, Sektor Ini yang Jadi Penyelamat!

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 1 Juli 2026 | 19:22 WIB
BANGKIT: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan mencatat tingkat okupansi hotel selama Juni 2026 berhasil menembus angka 58 persen.
BANGKIT: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan mencatat tingkat okupansi hotel selama Juni 2026 berhasil menembus angka 58 persen.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Industri perhotelan mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah beberapa bulan berada dalam tekanan.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan mencatat tingkat okupansi hotel selama Juni 2026 berhasil menembus angka 58 persen, capaian yang dinilai cukup mengejutkan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Ketua PHRI Balikpapan yang juga General Manager Platinum Hotel and Convention Hall, Soegianto, mengakui pelaku usaha hotel sebenarnya masih menghadapi berbagai tantangan. Namun peningkatan okupansi pada Juni menjadi angin segar bagi industri perhotelan.

"Kalau bicara kondisi perhotelan, sebenarnya sampai saat ini belum baik-baik saja. Tapi Alhamdulillah saya juga cukup kaget, karena okupansi bulan Juni bisa mencapai sekitar 58 persen. Biasanya untuk menembus angka 40 persen saja cukup sulit," kata Soegianto.

Baca Juga: Belum Lolos UMPTKIN? Masih Ada Kesempatan Kuliah di UINSI Samarinda lewat Jalur Mandiri 2026

Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi yang mulai kembali mendorong permintaan terhadap jasa akomodasi. Ia memperkirakan kenaikan okupansi mencapai sekitar 25 persen dibanding kondisi sebelumnya.

Soegianto menjelaskan, meningkatnya okupansi bukan berasal dari kegiatan pemerintah seperti tahun-tahun sebelumnya. Justru aktivitas korporasi menjadi motor utama penggerak industri hotel di Balikpapan.

"Ada berbagai perusahaan yang mulai mengadakan kegiatan di Balikpapan. Dari sektor perkebunan sawit maupun perusahaan lainnya cukup banyak yang menyelenggarakan meeting maupun gathering," ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini industri hotel memang sangat bergantung terhadap penyelenggaraan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition). Ketika aktivitas pemerintahan berkurang akibat efisiensi anggaran, sektor korporasi menjadi penopang utama.

Baca Juga: BRI Balikpapan Sudirman Gandeng Universitas Mulia, Hadirkan Akses Langsung Mahasiswa menuju Dunia Kerja 

"Dulu memang banyak bergantung kepada kegiatan pemerintah. Sekarang kementerian hampir tidak ada kegiatan. Syukurnya corporate mulai bergerak sehingga membantu tingkat okupansi hotel," jelasnya.

PHRI berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut hingga akhir tahun. Menurut Soegianto, periode Juli hingga Desember biasanya menjadi momentum yang cukup baik apabila berbagai agenda bisnis dan investasi terus meningkat.

"Mudah-mudahan mulai Juli sampai Desember okupansi terus naik. Itu yang menjadi harapan seluruh pelaku usaha hotel," katanya.

Ia menambahkan, Balikpapan masih memiliki potensi besar sebagai kota bisnis yang menopang berbagai aktivitas investasi di Kalimantan Timur, terutama dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kondisi tersebut diharapkan dapat menjaga permintaan kamar hotel tetap stabil meski belanja pemerintah masih terbatas.

"Kalau aktivitas perusahaan terus berjalan dan agenda investasi bertambah, saya optimistis industri hotel juga akan ikut bergerak lebih baik," tutup Soegianto. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Bisnis perhotelan Kaltim 2026 #Hotel penyangga IKN #Industri MICE Balikpapan #PHRI Balikpapan #okupansi hotel Balikpapan