KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Tantangan memenuhi kebutuhan energi nasional masih menjadi pekerjaan besar bagi pelaku industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia, termasuk di Kaltim. Di tengah tingginya konsumsi minyak dalam negeri, kemampuan produksi nasional belum mampu mengejar permintaan sehingga Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian yang disampaikan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dalam forum diskusi bersama insan media di Balikpapan. Perusahaan menilai keberlanjutan operasi lapangan migas yang telah memasuki usia tua menjadi faktor penting untuk menjaga kontribusi terhadap produksi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Manager Communication Relations & CID PHI Dony Indrawan, menjelaskan, sebagian besar lapangan migas yang saat ini dikelola telah memasuki fase secondary recovery hingga tertiary recovery. Tahapan tersebut membutuhkan investasi lebih besar, teknologi yang semakin kompleks, serta kondisi operasional yang stabil agar kegiatan produksi tetap memberikan nilai ekonomi.
Baca Juga: Loyal Gunakan MyPertamina saat Beli BBM Non-Subsidi, Dua Driver Ojol Bawa Pulang Yamaha Lexi
"Semakin tua usia reservoir, tantangan produksinya juga semakin tinggi. Karena itu, operasi harus berlangsung tanpa hambatan berarti agar keekonomian lapangan tetap terjaga dan produksi bisa dipertahankan," ucapnya, Kamis (2/7).
Ia memaparkan kebutuhan minyak Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara kemampuan produksi domestik baru berada di kisaran 605 ribu barel per hari. Selisih tersebut menyebabkan pemerintah masih harus memenuhi kekurangan melalui impor minyak.
Menurut Dony, setiap tambahan produksi dari lapangan migas nasional memiliki nilai strategis karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Selain memperkuat ketahanan energi, peningkatan produksi juga berkontribusi menjaga devisa negara agar tidak semakin banyak terserap untuk kebutuhan impor energi.
"Setiap barel minyak yang berhasil diproduksikan memiliki arti penting. Apabila produksi mengalami penurunan, maka kebutuhan impor akan meningkat dan beban terhadap perekonomian nasional juga menjadi lebih besar," ujarnya.
Baca Juga: Mahasiswa ITK Hadirkan Inovasi Aquaponik, Manfaatkan Air Kolam Lele jadi Nutrisi Alami Kangkung
Ia menambahkan, tantangan industri migas saat ini tidak hanya berasal dari aspek teknis di lapangan. Dinamika geopolitik global, fluktuasi harga energi, hingga efisiensi investasi juga menjadi faktor yang memengaruhi keberlanjutan bisnis hulu migas.
"Karena itu, perusahaan membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan agar kegiatan operasi dapat berjalan secara aman dan berkelanjutan," ucapnya. Dukungan tersebut dinilai penting mengingat industri migas merupakan sektor strategis yang berkontribusi terhadap penerimaan negara sekaligus menjaga pasokan energi bagi masyarakat.
Dony turut menjelaskan tahapan bisnis hulu migas mulai dari eksplorasi, pengembangan lapangan hingga proses produksi. Ia berharap masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai karakteristik industri migas yang memerlukan investasi besar, berisiko tinggi dan membutuhkan waktu panjang sebelum menghasilkan produksi.
PHI sendiri mengelola operasi hulu migas di Regional 3 Kalimantan yang mencakup Zona 8, Zona 9, dan Zona 10. Hingga 2025, perusahaan membukukan produksi sekitar 58 ribu barel minyak per hari serta 630 juta standar kaki kubik gas per hari.
"Melalui operasi yang mengedepankan aspek keselamatan, efisiensi, kepatuhan terhadap regulasi, dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), PHI bersama SKK Migas terus berupaya menjaga keberlanjutan produksi migas nasional sebagai salah satu penopang ketahanan energi Indonesia," tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo