Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Gelombang Tinggi Pangkas Pasokan Ikan, Inflasi Kaltim Kembali Meningkat

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 7 Juli 2026 | 08:24 WIB
Gelombang tinggi menghambat aktivitas nelayan sehingga pasokan ikan tangkap berkurang ketika kebutuhan masyarakat sedang meningkat.
Gelombang tinggi menghambat aktivitas nelayan sehingga pasokan ikan tangkap berkurang ketika kebutuhan masyarakat sedang meningkat.

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekanan inflasi di sebagian besar wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Timur meningkat pada triwulan I 2026. Dari empat daerah yang menjadi sampel IHK, hanya Berau yang mencatat perlambatan inflasi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur Jajang Hermawan mengatakan, Samarinda menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi pada periode tersebut.

Inflasi di Kota Samarinda tercatat sebesar 3,92 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di angka 2,70 persen.

Baca Juga: Di Tengah Efisiensi Anggaran, Kontingen Kubar Pulang dengan Dua Gelar Juara Nasional

Sementara itu, inflasi di Penajam Paser Utara mencapai 3,02 persen (yoy), Balikpapan 2,95 persen (yoy), dan Berau 2,38 persen (yoy).

“Peningkatan tekanan inflasi di beberapa kota IHK didorong oleh kenaikan andil inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Adapun perlambatan inflasi di Berau terutama dipengaruhi deflasi pada kelompok transportasi, khususnya angkutan udara,” ujar Jajang.

Menurut dia, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi di seluruh daerah IHK di Kalimantan Timur.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga di berbagai wilayah antara lain beras, daging ayam ras, dan ikan layang.

Jajang menjelaskan, lonjakan harga tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026.

Di sisi lain, kondisi cuaca buruk yang disertai gelombang tinggi turut menghambat aktivitas nelayan. Akibatnya, pasokan ikan tangkap berkurang ketika permintaan masyarakat sedang meningkat.

Baca Juga: Gerindra Kritik Biaya Izin Bangunan dan KKPR, Khawatir Hambat Investasi di Balikpapan

“Pasokan ikan menjadi terbatas karena aktivitas melaut terganggu oleh cuaca dan gelombang tinggi,” jelasnya.

Selain kelompok pangan, inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Tekanan pada kelompok ini terutama berasal dari meningkatnya harga emas perhiasan yang terjadi di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Menurut Jajang, tingginya ketidakpastian ekonomi global maupun nasional mendorong masyarakat menjadikan emas sebagai instrumen penyimpanan nilai yang relatif aman.

Kondisi tersebut membuat permintaan emas meningkat dan berujung pada kenaikan harga di pasaran.

Data Bank Indonesia menunjukkan rata-rata harga emas bulanan terus mengalami kenaikan selama periode laporan. Pada Januari 2026, harga emas rata-rata berada di kisaran Rp2,86 juta. Angka tersebut naik menjadi sekitar Rp3,08 juta pada Februari 2026.

Kenaikan harga emas tersebut turut memperbesar tekanan inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya di Kalimantan Timur. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#inflasi Samarinda #Inflasi Kaltim #harga emas #Bank Indonesia Kaltim #harga ikan