KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Memasuki kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas IIA Balikpapan, suasananya jauh dari kesan lembaga pemasyarakatan yang identik dengan tembok tinggi dan jeruji besi. Hamparan hijau tanaman, deretan greenhouse, kolam ikan, hingga kandang ayam menyambut setiap pengunjung.
Di lahan seluas sekitar 7.000 meter persegi itu, harapan baru sedang ditanam bersama benih-benih sayuran dan buah. Di sinilah sekitar 10 hingga 14 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menjalani program pembinaan kemandirian melalui sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan.
Mereka tidak dipilih secara sembarangan. Sebelum bergabung, setiap warga binaan harus memenuhi sejumlah persyaratan, mulai dari telah menjalani setidaknya setengah masa pidana, memenuhi syarat administrasi program asimilasi, hingga memiliki minat dan komitmen untuk belajar bertani maupun membudidayakan ikan.
Baca Juga: Tinggal Sedikit! Ruko Dua Fasad Menghadap Laut di Borneo Bay City Diburu Investor
SAE berada tepat di sebelah Lapas Kelas IIA Balikpapan. Di sini para WBP bercocok tanam beragam jenis sayur dan buah-buahan seperti melon, pisang, cabai, kangkung dan sawi. Terdapat pula budi daya ikan, peternakan ayam kampung, hidroponik serta greenhouse.
Akan tetapi bertani dan bercocok tanam di sini tidaklah mudah dan memiliki tantangan tersendiri lantaran kondisi tanah yang cenderung kurang subur dan memiliki tekstur yang cukup sulit untuk budi daya.
Melihat tantangan itu, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Sepinggan bersama Lapas Kelas IIA Balikpapan berkolaborasi dan berkomitmen mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat melalui beberapa program.
Salah satunya pelatihan pengelolaan lahan dan peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian, untuk membantu para WBP berkebun. WBP diberikan pelatihan dan edukasi untuk pengelolaan lahan, diajarkan cara membuat pupuk untuk pertumbuhan tanaman, pupuk untuk pembuahan, pembuatan insektisida nabati, fungisida atau anti jamur dan perekat.
Baca Juga: Efek Central Park Mulai Terasa, Apartemen dan OneBay Jadi Incaran Investor
Bahan yang digunakan pun mudah didapat karena berada di sekitar SAE dan tentunya ramah lingkungan. Contoh bahan yang digunakan adalah kotoran hewan (kohe) dari ayam, bakteri pengurai (E4), garam dan dedak.
Pertamina juga memberikan beberapa bantuan untuk menunjang kegiatan pengelolaan lahan dan berkebun tersebut di antaranya mesin sprayer tanaman, kotoran hewan (kohe), sekam, bahan dapur untuk pembuatan pestisida alami, serta ember penampungan untuk proses fermentasi pupuk.
Pelatihan pengelolaan lahan dan peningkatan kualitas pertanian ini menjadi penting untuk mengoptimalkan keterbatasan lahan dan kondisi tanah yang cukup sulit untuk berkebun.
Dengan adanya pelatihan diharapkan WBP mengetahui cara pembuatan pupuk dengan baik sehingga hasilnya tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas panen, tetapi juga dapat menjaga kualitas tanah agar tetap subur.
Selain itu, diharapkan setelah berhasil panen lahan tersebut dapat berkelanjutan untuk ditanam kembali. Kegiatan pelatihan juga bertujuan agar WBP memiliki bekal kemandirian dan keterampilan, di mana pada saat mereka kembali ke masyarakat mereka dapat menjadi produktif dan mencari pendapatan alternatif mereka melalui berkebun, budi daya ikan, dan lainnya.
Pertamina juga mendukung lapas dengan membangun fasilitas greenhouse berukuran 22 x 11 meter di area SAE yang digunakan untuk menanam melon. Disini terlihat melon tumbuh dengan subur dan sehat.
Hasilnya, para WBP dapat panen melon perdana mencapai sekitar 400 kilogram. Usai panen, diharapkan tanaman melon dapat kembali tumbuh dengan baik dan dapat memperluas area penanaman buah melon agar dapat panen buah melon dengan jumlah yang lebih banyak. (*)
Anggi Praditha
anggipraditha@gmail.com
Editor : Nugroho Pandu Cahyo