KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis di tengah perlambatan ekonomi, para pelaku usaha juga menjadikan transformasi internal sebagai strategi dalam memperkuat daya saing perusahaan.
Digitalisasi sistem operasional, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), hingga standarisasi keselamatan kerja menjadi agenda besar yang dijalankan perusahaan sepanjang tahun ini. Seperti dilakukan manajemen PT Surya Biru Murni Acetylene (SBMA) Tbk.
Disampaikan Direktur Operasional dan Marketing PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) Frans Budianto Gunawan, perusahaan saat ini tengah memasuki fase konsolidasi setelah tiga tahun terakhir melakukan ekspansi bisnis secara agresif melalui berbagai investasi dan pengembangan usaha.
Baca Juga: Kutai Barat Siap Sambut Delegasi Se-Kaltim, Gelar TTG XII 2026 Tinggal Hitungan Hari
Menurutnya, momentum perlambatan industri justru dimanfaatkan perusahaan untuk membangun fondasi organisasi yang lebih kuat sehingga mampu mendukung pertumbuhan jangka panjang.
"Selama tiga tahun terakhir kami cukup agresif melakukan ekspansi dan investasi. Tahun ini kami memasuki masa konsolidasi, bukan berarti mengurangi aktivitas bisnis, tetapi lebih membangun standarisasi agar seluruh cabang memiliki sistem kerja yang sama," ucapnya, baru-baru ini.
Frans menjelaskan konsolidasi tersebut mencakup berbagai aspek operasional perusahaan, mulai dari standarisasi pelaporan, sistem pengelolaan aset, administrasi dokumen hingga penerapan health, safety, and environment (HSE) di seluruh unit usaha.
Dengan sistem yang seragam, perusahaan menargetkan terciptanya efisiensi operasional yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat profitabilitas di tengah kondisi pasar yang masih penuh tantangan.
Baca Juga: Penyangga IKN Harus Kondusif, Satlantas Polres PPU dan POM AD Pererat Sinergi Operasional
"Yang paling penting adalah semua cabang memiliki standar pelaporan, standar HSE, standar pengelolaan dokumen dan aset yang sama seperti di kantor pusat. Dari situlah efisiensi akan terbentuk," katanya.
Selain melakukan pembenahan proses bisnis, perusahaan juga mempercepat transformasi digital. Seluruh sistem operasional diarahkan menjadi lebih terintegrasi sehingga proses pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat, akurat, dan efisien.
Frans menuturkan digitalisasi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di tengah perubahan industri. "Target kami tahun ini adalah mengembangkan sistem yang terintegrasi secara digital. Itu sudah menjadi kebutuhan agar seluruh operasional perusahaan berjalan lebih efektif," ujarnya.
Tidak hanya sistem, perhatian perusahaan juga tertuju pada peningkatan kualitas SDM. Menurut Frans, industri gas memiliki karakteristik yang sangat spesifik sehingga membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi teknis yang tidak banyak tersedia di pasar.
Karena itu, perusahaan memilih memperkuat kemampuan karyawan melalui berbagai pelatihan dan sertifikasi agar memiliki keahlian yang sesuai dengan perkembangan industri. "SDM harus lebih tertata dan memiliki keahlian khusus. Industri seperti kami membutuhkan tenaga kerja yang kompetensinya spesifik sehingga peningkatan kemampuan menjadi hal yang wajib dilakukan," katanya.
Program peningkatan kompetensi tersebut tidak hanya menyasar karyawan, tetapi juga mencakup kesiapan peralatan operasional perusahaan. SBMA saat ini menjalankan berbagai sertifikasi yang berkaitan dengan keselamatan kerja, termasuk pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), kendaraan operasional, hingga peralatan pendukung lainnya.
Baca Juga: DPRD Balikpapan Usul Job Fair Digelar 3 Kali Setahun, Bidik Penyerapan 2.000 Pencari Kerja Lokal
Frans menegaskan aspek keselamatan menjadi salah satu prioritas perusahaan karena berkaitan langsung dengan operasional industri gas yang memiliki tingkat risiko tinggi. "Bukan hanya orangnya yang harus memiliki kompetensi, tetapi alat kerjanya juga harus memenuhi standar. Kami sedang menjalankan berbagai sertifikasi, termasuk untuk penanganan B3 dan keselamatan kendaraan operasional," jelasnya.
Di tengah perlambatan ekonomi global, menurut Frans, pembenahan internal menjadi langkah paling realistis yang dapat dikendalikan perusahaan. Berbagai faktor eksternal seperti konflik geopolitik maupun perubahan kondisi pasar memang sulit diprediksi, namun perusahaan tetap dapat meningkatkan kesiapan dari sisi internal.
Ia mengatakan strategi tersebut diyakini mampu menjaga daya saing perusahaan ketika kondisi ekonomi mulai kembali pulih. "Yang bisa kami kendalikan adalah perusahaan kami sendiri. Karena itu kami fokus memperbaiki sistem, meningkatkan kompetensi SDM dan mengikuti perkembangan regulasi agar ketika pasar kembali tumbuh kami sudah siap," ujarnya.
Baca Juga: Kronologi Lengkap Bom Rakitan MAN 3 Padang, Dugaan Bullying hingga Motif Pelaku Terungkap
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kepercayaan investor. Menurut Frans, perusahaan ingin menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya diukur dari peningkatan penjualan, tetapi juga dari kemampuan membangun organisasi yang sehat, efisien, dan berkelanjutan.
Ia mengatakan transformasi internal yang sedang dilakukan diharapkan mampu memberikan dampak terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan, bahkan apabila kondisi bisnis belum sepenuhnya kembali seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Kami ingin membuktikan kepada investor bahwa perusahaan tetap memiliki prospek. Kalaupun kondisi bisnis belum lebih baik dari tahun lalu, setidaknya profitabilitas dapat ditingkatkan melalui efisiensi dan pembenahan internal," tuturnya.
Ke depan, SBMA menargetkan seluruh program digitalisasi, standarisasi operasional, serta pengembangan SDM dapat menjadi fondasi bagi ekspansi perusahaan ke berbagai wilayah baru. "Perusahaan optimistis mampu menghadapi dinamika industri sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan yang muncul seiring membaiknya kondisi ekonomi nasional maupun global," tandasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo