KALTIMPOST.ID-Pelemahan ekspor di kota ini pada Mei 2026 tidak hanya dipengaruhi faktor migas, tetapi juga berasal dari menurunnya kinerja sejumlah sektor industri yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor nonmigas.
Yang mana, Data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan menunjukkan sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar penurunan ekspor daerah.
Dilihat dari nilai ekspor Balikpapan pada Mei 2026 sendiri, tercatat sebesar USD 450,54 juta atau turun 20,84 persen dibandingkan April 2026. Penurunan tersebut terutama terjadi pada kelompok nonmigas yang masih mendominasi struktur ekspor daerah.
“Ekspor nonmigas pada Mei 2026 tercatat sebesar USD 370,66 juta atau turun 20,82 persen dibandingkan April 2026,” kata Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.
Berdasarkan kelompok lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar ekspor nonmigas Balikpapan.
Pada Mei 2026 sektor ini menyumbang 72,52 persen terhadap total ekspor nonmigas. Namun dominasi tersebut juga membuat setiap pelemahan industri pengolahan langsung berdampak besar terhadap kinerja ekspor secara keseluruhan.
Selain industri pengolahan, sektor pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi sebesar 27,48 persen terhadap ekspor nonmigas.
Komposisi ini menunjukkan ekspor Balikpapan masih bertumpu pada sektor berbasis sumber daya alam dan hasil pengolahan.
Menurut Marinda, struktur ekspor seperti ini memberikan peluang besar ketika permintaan global meningkat, tetapi juga membuat ekspor cukup sensitif terhadap perubahan harga komoditas dan kebutuhan industri di negara tujuan.
Data BPS memperlihatkan bahwa selama Januari hingga Mei 2026 nilai ekspor nonmigas mencapai USD 1,17 miliar.
“Meski masih menjadi penyumbang terbesar perdagangan luar negeri Balikpapan, nilai tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” sebutnya.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur dan pengolahan masih menghadapi tantangan dari sisi permintaan pasar internasional.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelaku industri dituntut mampu menjaga daya saing produk agar tetap diterima di pasar ekspor.
Marinda menjelaskan penguatan sektor industri pengolahan akan menjadi faktor penting untuk mengembalikan pertumbuhan ekspor Balikpapan.
Mengingat sebagian besar nilai ekspor daerah berasal dari sektor tersebut, setiap peningkatan produksi dan pengiriman akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perdagangan luar negeri.
“Industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekspor nonmigas Balikpapan. Karena itu perkembangan sektor ini akan sangat menentukan arah ekspor daerah ke depan,” ujarnya.
Dengan kontribusi lebih dari 70 persen terhadap ekspor nonmigas, sektor industri pengolahan masih menjadi motor utama perdagangan internasional Balikpapan sekaligus sektor yang paling menentukan keberhasilan pemulihan ekspor pada bulan-bulan mendatang. (rd)
Editor : Romdani.