Kadispar Kaltim; Ekraf Tak Akan Jadi Penopang Ekonomi Kaltim Tanpa Dukungan Anggaran

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 14:05 WIB
DUKUNGAN: Kuliner jadi salah satu subsektor ekraf dengan nilai tambah tertinggi. Penguatan anggaran jadi kunci utama.
DUKUNGAN: Kuliner jadi salah satu subsektor ekraf dengan nilai tambah tertinggi. Penguatan anggaran jadi kunci utama.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Keinginan menjadikan ekonomi kreatif (ekraf) sebagai salah satu penopang ekonomi Kalimantan Timur di tengah menurunnya sektor ekstraktif dinilai tidak cukup hanya dengan slogan. Pemerintah daerah juga harus menunjukkan komitmen melalui dukungan anggaran.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Muhammad Faisal menilai selama ini pengembangan pariwisata dan ekraf terus digaungkan. Namun, menurutnya, keberhasilan sektor tersebut sangat bergantung pada besarnya dukungan pembiayaan dari pemerintah.

"Rencana transformasi ekonomi itu sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. Tetapi apakah komitmen anggaran mendukung ke sana? Anggaran tidak mendukung, terus bagaimana kita mau memajukan," katanya.

Baca Juga: UMP Sawit 2027 Mulai Dibahas, Pemprov Kaltim Cari Titik Temu Pekerja dan Pengusaha

Faisal menyebut kondisi tersebut menjadi bahan autokritik bagi pemerintah daerah. Ia berencana menelusuri besaran alokasi APBD untuk sektor ekonomi kreatif, pariwisata, dan UMKM dalam beberapa tahun terakhir.

"Saya akan sampaikan ke pimpinan dan saya coba gali datanya tiga sampai empat tahun terakhir. Berapa persen sih dari APBD kita komitmen anggaran ke ekraf, ke pariwisata dan ke sektor UMKM lainnya untuk menghilangkan yang ekstraktif tadi atau menuju ekonomi hijau," ujarnya, Rabu (22/7).

Selain penguatan anggaran, Dispar Kaltim juga menilai pembangunan ekosistem menjadi pekerjaan penting. Sebagai contoh di subsektor musik, menurut Faisal, banyak musisi memiliki karya bagus, tetapi masih kesulitan bertemu produser, studio rekaman hingga akses pemasaran.

Baca Juga: Rata-rata Lama Menginap Tamu Hotel Berbintang Kaltim Turun Tipis, Kepala BPS Mas’ud Rifai Beber Data Terbarunya

"Yang kita bangun adalah ekosistemnya. Banyak pencipta lagu punya lagu bagus, punya aransemen bagus tapi bingung mau serahkan dengan siapa. Ada pemain bagus tapi enggak punya ciptaan sendiri. Ada juga yang bagus semuanya, bingung studio rekaman. Itu tandanya ekosistem kita belum jalan," jelasnya.

Oleh sebab itu, pihaknya menyiapkan studio mixing dan rekaman sebagai salah satu solusi. Ke depan, ia juga ingin menghadirkan ajang business to business (B2B) yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan investor, perusahaan, HIPMI hingga Kadin.

Menurut Faisal, kebutuhan permodalan menjadi tantangan berikutnya setelah pelaku mampu menghasilkan karya berkualitas. "Saya pengen nanti rutin pertemuan dengan pebisnis, dengan pemodal, dengan siapapun yang ingin melihat karya-karya anak Kaltim yang sebenarnya kalau didorong bisa menghasilkan dan bisa lebih besar," katanya.

Di sisi lain, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga dinilai membuka pasar baru bagi produk ekonomi kreatif Kaltim. Namun, ia mengingatkan pelaku usaha harus meningkatkan kualitas produk, pelayanan, dan sumber daya manusia agar mampu memenuhi ekspektasi masyarakat yang datang ke IKN.

"Kita tidak ada jalan selain meningkatkan kapasitas produk kita, meningkatkan kualitas manusianya, layanannya dan produknya. Kalau tiga itu dinaikkan, kita pasti tidak jadi penonton," pungkasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
Ekonomi Kaltim Dinas Pariwisata Kaltim ekonomi kreatif APBD Kaltim MUHAMMAD FAISAL