Ekonomi Kreatif Kaltim Diproyeksi Sumbang 7 Persen PDRB pada 2027, Kuliner Masih Mendominasi

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 16:56 WIB
EKONOMI: Dari sisi aktivitas ekonomi, subsektor kuliner jadi penyumbang terbesar.
EKONOMI: Dari sisi aktivitas ekonomi, subsektor kuliner jadi penyumbang terbesar.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ekonomi kreatif (ekraf) mulai menunjukkan peran yang semakin besar dalam upaya transformasi ekonomi Kalimantan Timur.

Setelah kontribusinya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sektor tersebut diproyeksikan mampu menyumbang hingga 7 persen terhadap perekonomian daerah pada 2027.

Heru Susilo dari Bidang Pemberdayaan Pelaku Ekraf Komite Ekraf Kaltim mengatakan penyusunan data kontribusi ekraf bukan pekerjaan mudah. Sebab, pelaku ekraf tersebar di berbagai lapangan usaha sehingga tidak bisa dihitung sebagai satu sektor tersendiri.

Baca Juga: Bikin Waswas Pengendara, Jalan Berlubang di Belimbing Bontang Ditambal Tim BRC

"Kalau kita berbicara ekraf ini bukan satu sektor saja, lapangan usahanya. Mereka tersebar di mana-mana, itu yang menjadi kendala kami bagaimana mengambil nilai tambahnya," ujarnya.

Oleh sebab itu, tim menggunakan pendekatan pemetaan berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) lima digit yang dipadukan dengan data legalitas usaha melalui OSS, data pelaku usaha, hingga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk menghitung nilai tambah ekonomi kreatif.

Hasilnya, kontribusi ekonomi kreatif Kaltim pada 2023 tercatat sekitar 5,61 persen atau senilai Rp29,3 triliun. Angka tersebut meningkat menjadi 5,63 persen pada 2024, lalu diproyeksikan naik menjadi 6,19 persen pada 2025 dan terus bertumbuh hingga mencapai 7 persen pada 2027.

Secara nilai tambah, ekraf Kaltim diperkirakan menghasilkan Rp31,32 triliun pada 2024 dan meningkat menjadi Rp35,93 triliun pada 2025. Kontribusi terbesar masih berasal dari sektor industri pengolahan, disusul informasi dan komunikasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum. 

Baca Juga: Realisasi Opsen PKB Baru 29,34 Persen, Bapenda Bontang Soroti Piutang hingga Kendaraan Belum Terdata

Heru menjelaskan, dari sisi aktivitas ekonomi, subsektor kuliner masih menjadi penyumbang terbesar. Kondisi tersebut dipengaruhi efek berganda (multiplier effect) yang dimiliki sektor kuliner karena berkaitan dengan banyak sektor usaha lainnya.

"Kalau kita lihat di 2024, aktivitas ekonomi juga paling banyak memang di kuliner. Karena kuliner multiplier effect-nya sangat tinggi. Ada keterhubungan dengan sektor-sektor lain sehingga dia memiliki nilai tambah yang tinggi," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan besarnya kontribusi suatu subsektor terhadap aktivitas ekonomi tidak serta-merta menjadikannya subsektor unggulan daerah. Penetapan prioritas tetap harus mempertimbangkan jumlah pelaku, aktivitas riil di lapangan, serta data yang valid.

"Kalau dari segi aktivitas ekonominya memang bergerak besar. Tapi apakah misalnya seperti penerbitan ini adalah unggulan ekonomi kreatif tentu itu harus ditelaah lagi. Karena ini hanya bagian aktivitas ekonomi yang bergerak di Kaltim," tegasnya sambil menunjuk data subsektor penerbitan dengan nilai tambah Rp2,1 miliar pada 2025.

Heru berharap penyusunan Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah (Rindekraf) dapat menjadi fondasi untuk memperkuat peran ekonomi kreatif dalam mendukung transformasi ekonomi Kaltim dari sektor berbasis sumber daya alam menuju ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Ekonomi Kreatif Kaltim ekraf Kaltim PDRB Kaltim 2027 kontribusi ekonomi kreatif kuliner Kaltim