Komite Ekraf Tetapkan Seni Budaya sebagai Klaster Prioritas, Kuliner Tetap Andalan

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 17:20 WIB
Wakil Ketua Ekonomi Kreatif - Erwiantono
Wakil Ketua Ekonomi Kreatif - Erwiantono

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kalimantan Timur mulai mengerucutkan arah pengembangan ekonomi kreatif lima tahun ke depan.

Berbeda dengan pendekatan yang hanya melihat besarnya nilai ekonomi, penyusunan Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah (Rindekraf) kali ini menggabungkan data statistik dengan masukan para pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah.

Dijelaskan Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kaltim Erwiantono mengatakan penyusunan Rindekraf dilakukan menggunakan pendekatan evidence based policy, yakni memadukan data dengan persepsi para pemangku kepentingan.

Baca Juga: Pemkab Mahulu Siapkan Guru Inklusi, TK Pembina Bakal Dilengkapi Fasilitas Ramah Disabilitas

"Kami membuat tiga kelompok besar, pelaku, pemerintah daerah termasuk agensi dan pembiayaan, kemudian akademisi. Kami mengambil persepsi bersama bahwa Kaltim akan mendorong prioritas pengembangan ekonomi kreatif dengan klaster berbasis seni dan budaya," kata pria yang dipanggil Erwin itu.

Meski demikian, ia menegaskan penetapan klaster prioritas tidak berarti meninggalkan subsektor lain. Dari sisi aktivitas ekonomi, kuliner tetap menjadi penggerak terbesar karena memiliki efek berganda terhadap banyak sektor usaha.

"Kuliner memang memutar mesin ekonomi baik dari skala, spektrum, kemudian daya ungkit dan daya tarik. Karena itu kita tetap mendorong kuliner sebagai prioritas utama," sambungnya.

Penguatan ekraf juga mendapat ruang dalam RPJMD Kaltim 2025-2029. Pada Misi 2, pemerintah menargetkan Kaltim menjadi pusat ekonomi baru yang inklusif berbasis industrialisasi komoditas unggulan daerah.

Baca Juga: Ekonomi Kreatif Kaltim Diproyeksi Sumbang 7 Persen PDRB pada 2027, Kuliner Masih Mendominasi

Salah satu arah kebijakannya ialah mendorong ekonomi inklusif berbasis ekonomi kreatif dan digital untuk mendukung UMKM, mengembangkan destinasi wisata berbasis desa, serta mempermudah investasi melalui kolaborasi pemerintah dan swasta.

"Rindekraf yang disusun tidak hanya berbasis evidence, tetapi juga representatif terhadap kondisi dan situasi yang ada di Kaltim," tegas Erwin saat penyusunan Rindekraf, Rabu (22/7) lalu di Temindung Creative Hub. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Ekonomi Kreatif Kaltim ekraf Kaltim kuliner Kaltim seni budaya Kaltim Komite Ekonomi Kreatif Kaltim