KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Industri kelapa sawit terus menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kalimantan Timur. Selain menjadi sumber lapangan kerja, komoditas ini juga memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) daerah hingga devisa negara.
Subsektor perkebunan berkontribusi 5,99 persen terhadap PDRB Kaltim. Industri tersebut juga didukung 271 perusahaan perkebunan yang beroperasi di berbagai kabupaten. "Kontribusi sawit terhadap perekonomian Kaltim sangat nyata," ujar Kepala Bidang Usaha Dinas Perkebunan Kaltim Wilma Kania Febrina.
Selain itu, subsektor perkebunan menyerap sekitar 261.407 tenaga kerja, sementara Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor perkebunan pada Juni 2025 mencapai 198,19 poin. Di sisi fiskal, juga menghasilkan Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit Rp10,69 miliar pada 2025 serta menyumbang devisa melalui ekspor senilai USD 2,48 miliar.
Baca Juga: Peringati Hari Hepatitis Sedunia, Dinkes Kubar Edukasi Pelajar lewat Senam dan Dialog Kesehatan
Wilma menjelaskan, Kaltim merupakan salah satu daerah strategis dalam industri sawit nasional. Berdasarkan data sementara Januari 2025, luas perkebunan sawit di Bumi Etam mencapai sekitar 1,33 juta hektare dengan produksi tandan buah segar (TBS) lebih dari 19 juta ton.
Menurutnya, arah pembangunan sawit di Kaltim juga telah diselaraskan dengan RPJMD 2025-2029 serta program nasional menuju Indonesia Emas 2045. Sawit diproyeksikan menjadi salah satu komoditas utama dalam mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam.
"Melalui berbagai program unggulan daerah, kami ingin memastikan produktivitas sawit yang berkelanjutan dapat mewujudkan Kaltim sebagai pusat ekonomi baru yang inklusif berbasis industrialisasi dan komoditas unggulan daerah," katanya.
Baca Juga: Produktivitas Sawit Rakyat Baru 2,9 Ton, Disbun Ungkap Deretan PR Besar
Wilma menambahkan, pengembangan industri sawit ke depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui penguatan sektor hilir dan pembangunan yang berkelanjutan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo