Dari Tenun Doyo hingga Batik Lokal, Laxmee Modiste Hidupkan Wastra Lewat Kolaborasi

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:05 WIB
ILMU: Tergabung dalam komunitas, Laksmi semangat menyebarkan ilmunya lewat berbagai pelatihan.
ILMU: Tergabung dalam komunitas, Laksmi semangat menyebarkan ilmunya lewat berbagai pelatihan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Perubahan gaya hidup masyarakat ikut mengubah wajah industri jahit di Samarinda. Jika dulu banyak orang rela membuat pakaian sesuai desain sendiri, kini tren bergeser ke busana siap pakai yang dinilai lebih praktis dan terjangkau.

Perubahan itu dirasakan langsung oleh Laksmi Cendana. Ia mengaku permintaan jahit custom dari pelanggan perorangan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. "Kalau dulu orang senang bikin baju sendiri, bawa referensi model. Sekarang gaya hidup berubah. Orang maunya simpel, cepat, murah. Baju online juga sekarang bagus-bagus," ujarnya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat usahanya berhenti berkembang. Laksmi memilih mengubah strategi dengan memperkuat produk berbahan wastra lokal serta memperbanyak busana ready to wear.

Baca Juga: Daftar 26 Skuad Timnas Indonesia ASEAN Championship 2026 dan 24 Pemain yang Dicoret John Herdman

Momentum itu semakin terbuka setelah brand miliknya yaitu Laxmee Modiste mengikuti berbagai pelatihan bersama komunitas fashion binaan Bank Indonesia sejak 2022. Melalui program tersebut, para desainer dipertemukan dengan pengrajin tenun, batik hingga kriya lokal untuk menghasilkan produk fesyen yang lebih modern.

"BI memang mengangkat wastra lokal. Jadi kami sinergi dengan pengrajin tenun, batik dan kriya. Mereka membuat kainnya, kami mendesain dan memproduksi pakaiannya," jelas Laksmi yang membangun usaha sejak 2005.

Kolaborasi itu membuat kain-kain khas Kaltim tampil lebih kasual dan dapat dikenakan dalam aktivitas sehari-hari, tidak lagi hanya untuk acara resmi. Menurutnya, meningkatnya kecintaan masyarakat terhadap wastra daerah turut membuka pasar baru.

"Kalau sekarang orang sudah mulai suka wastra. Bisa dipakai kerja, jalan, tetap ada unsur etniknya tapi desainnya lebih modern," katanya. Laksmi mengaku kini banyak menerima pesanan busana berbahan batik lokal untuk instansi pemerintah maupun berbagai kegiatan resmi. Selain itu, ia juga rutin mengerjakan seragam perusahaan.

Baca Juga: Jangan Cuma Balap Karung dan Tarik Tambang! Ini 15 Ide Lomba 17 Agustus 2026 untuk Anak hingga Dewasa

Salah satu pelanggan tetapnya adalah perusahaan otomotif yang secara berkala memesan seragam kerja. "Jadi rutin pesan seragam bisa sampai ratusan. Kalau instansi lebih banyak batik karena mereka ingin dimodelkan. Enggak semua penjahit bisa mengerjakan batik karena motifnya harus disusun dengan tepat," ujarnya.

Baginya, mengolah kain wastra bukan sekadar menjahit. Setiap motif memiliki filosofi sehingga penempatannya harus diperhatikan agar nilai estetikanya tetap terjaga. "Tiap kain punya cerita dan filosofi. Jadi kami enggak bisa sembarang potong. Motifnya harus tetap nyambung dan estetik," jelasnya.

Di balik pertumbuhan usaha tersebut, Laksmi masih menghadapi satu persoalan besar, yakni sulitnya mendapatkan tenaga jahit yang bertahan lama. Ia mengaku sudah berkali-kali merekrut dan melatih pekerja dari nol, namun banyak yang akhirnya memilih membuka usaha sendiri setelah memiliki keterampilan.

"Sudah tidak terhitung saya mengajari orang dari awal sampai bisa. Tapi rata-rata setelah bisa mereka buka usaha sendiri. Ya enggak apa-apa, saya anggap amal jariyah," ucapnya.

Untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar, ia kini mengandalkan kolaborasi dengan sesama rumah jahit dan konveksi di Samarinda. "Solusinya ya sinergi. Kalau pesanan banyak kami kerja sama dengan konveksi atau rumah jahit lain supaya semua tetap bisa selesai tepat waktu," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Laxmee Modiste Laksmi Cendana wastra Kalimantan Timur Tenun Doyo batik kaltim