Pendapatan Negara Kaltim Tembus Rp11,73 Triliun Semester I 2026, Tumbuh 19,64 Persen

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 18:31 WIB
TERDONGKRAK: Bea keluar ikut terdongkrak hingga 20,58 persen seiring naiknya harga referensi CPO.
TERDONGKRAK: Bea keluar ikut terdongkrak hingga 20,58 persen seiring naiknya harga referensi CPO.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja pendapatan negara di Kalimantan Timur terus menunjukkan tren positif. Hingga akhir Juni 2026, realisasinya telah mencapai Rp11,73 triliun atau 26,72 persen dari target Rp43,88 triliun. Capaian tersebut tumbuh 19,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kontributor terbesar masih berasal dari penerimaan pajak dalam negeri yang mencatatkan pertumbuhan dua digit. Di sisi lain, penerimaan kepabeanan dan cukai mulai berbalik tumbuh setelah sebelumnya mengalami tekanan.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kaltim Tjahjo Purnomo mengatakan, penerimaan pajak menjadi penopang utama pendapatan negara sepanjang semester pertama tahun ini.

Baca Juga: Generasi Ke-9 Honda Vario Sapa Balikpapan, New Vario Evo 160 Tampil Lebih Agresif di Pentacity

"Capaian tersebut didominasi oleh kinerja pajak dalam negeri yang mencapai Rp8,53 triliun, tumbuh 25,36 persen secara tahunan, dipengaruhi oleh penurunan restitusi pajak," ungkapnya.

Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp1,71 triliun atau tumbuh 6,81 persen secara tahunan. Meski demikian, bea masuk masih turun 18,01 persen akibat menurunnya impor kawat, kabel, dan konduktor listrik berisolasi lainnya.

Berbeda dengan bea masuk, penerimaan bea keluar justru meningkat 20,58 persen seiring naiknya harga referensi crude palm oil (CPO).

Selain itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) telah terealisasi Rp1,48 triliun atau 67,17 persen dari target. Angka tersebut meningkat 6,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong kenaikan pendapatan jasa kepelabuhanan.

Baca Juga: Petani Kaltim Tertekan, Harga Hasil Pertanian Turun 3,88 Persen tapi Biaya Produksi Naik

Menurut Tjahjo, secara umum kondisi fiskal Kaltim masih terjaga sehingga mampu menopang aktivitas ekonomi daerah.

"Secara keseluruhan, kinerja fiskal Kaltim hingga akhir Juni 2026 menunjukkan performa yang solid dan resilien. Hal ini mencerminkan peran nyata APBN sebagai motor penggerak utama yang tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga aktif mendorong momentum pertumbuhan ekonomi regional yang optimistis, inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
pendapatan negara Kaltim pajak Kaltim penerimaan pajak Kaltim bea keluar CPO DJPb Kaltim