KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sektor konstruksi, pertambangan, dan industri pengolahan menjadi penggerak utama pertumbuhan kredit perbankan di Kaltim sepanjang triwulan I 2026. Ketiga sektor strategis itu mendorong akselerasi penyaluran kredit daerah hingga melampaui rata-rata nasional.
Berdasarkan data Bank Indonesia, kredit perbankan di Kaltim pada triwulan I 2026 tumbuh 9,46 persen (yoy) dengan nilai outstanding mencapai Rp205,41 triliun.
Pertumbuhan tersebut meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya 3,39 persen (yoy), sekaligus lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional yang mencapai 8,93 persen (yoy).
Baca Juga: Usulan PKT Belum Lolos, Pansus RTRW DPRD Bontang Bedah Legalitas hingga Ancaman Sengketa
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, penguatan kredit secara sektoral paling besar terjadi pada sektor konstruksi.
"Kredit sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan tertinggi 25,51 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya 23,01 persen (yoy). Kinerja tersebut sejalan dengan berlanjutnya berbagai proyek pembangunan infrastruktur dan investasi strategis di Kaltim, termasuk pembangunan kawasan penunjang Ibu Kota Nusantara (IKN)," paparnya.
Selain konstruksi, kredit sektor pertambangan juga melonjak 22,04 persen (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya masih mengalami kontraksi 0,60 persen. Menurut Jajang, kondisi itu menunjukkan kebutuhan pembiayaan di sektor tambang tetap tinggi untuk mendukung operasional, modal kerja, hingga pengembangan usaha.
Adapun kredit sektor industri pengolahan turut menguat menjadi 14,98 persen (yoy), naik dari sebelumnya 12,08 persen. Meski demikian, dari sisi struktur penyaluran, sektor pertambangan masih menjadi penerima kredit terbesar dengan pangsa 21,79 persen dari total kredit di Kaltim.
Baca Juga: IPAL Tak Kunjung Dilaporkan, Komisi III Ultimatum Mie Gacoan
"Kondisi tersebut mencerminkan peran penting sektor pertambangan dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah, sekaligus menunjukkan besarnya kebutuhan pembiayaan untuk menopang kegiatan usaha pada sektor tersebut," kata Jajang.
Di balik derasnya ekspansi pembiayaan, kualitas kredit sektor-sektor utama tetap sehat. Rasio NPL sektor pertanian tercatat 0,24 persen, industri pengolahan 0,31 persen, dan pertambangan 0,46 persen. Sementara sektor konstruksi memiliki NPL 2,73 persen, namun masih berada jauh di bawah batas aman 5 persen.
"Secara keseluruhan, terjaganya kualitas kredit pada sektor-sektor utama mencerminkan ketahanan dunia usaha dan efektivitas penerapan manajemen risiko oleh perbankan. Kondisi tersebut menjadi modal yang kuat bagi keberlanjutan fungsi intermediasi perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Kaltim ke depan," pungkas Jajang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo