KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Jemarinya merangkai video menjadi ruang pemasaran. Tanpa toko dan tanpa barang, komisi berdatangan. Cerita Marni menjadi bentuk wajah baru mata pencaharian.
Kedua anaknya akhirnya terlelap siang itu. Jumarni tak ikut beristirahat. Ia justru meraih telepon genggam, membuka aplikasi penyunting video, lalu mulai menjahit satu demi satu potongan gambar yang telah direkam beberapa hari terakhir. Durasinya tak sampai semenit. Namun, video pendek itulah yang kini menjadi "lapak" mencari penghasilan.
Beberapa stok video sudah tersimpan. Ada yang tinggal dipoles dengan musik, ada yang diberi teks, lalu diunggah ke media sosial. Rutinitas itu terus berulang hampir setiap hari, memanfaatkan sela-sela waktu ketika pekerjaan rumah selesai dan anak-anak sedang tidur.
Baca Juga: Satu Ditahan, Dua Pelajar Tak Ditahan, Ini Perkembangan Kasus Pengeroyokan Guru PJOK di Balikpapan
Perempuan yang dipanggil Marni itu tak memiliki toko. Ia juga tak menyimpan stok barang di rumah. Penghasilannya datang dari tautan produk yang dibagikan lewat konten-konten ulasan sederhana. Begitulah cara kerja afiliator. Sekali klik, barang dibeli, Marni kecipratan rezeki.
Aktivitas membuat konten menjadi pekerjaan yang dijalani secara konsisten. "Bikin stok video dulu banyak-banyak. Nanti diedit satu-satu, baru dijadwalkan upload," ujar Gen Z generasi pertama itu menjelaskan sistem kerjanya.
Dia masih ingat, pertama mencoba pada awal 2024 lalu, komisi yang masuk bahkan tak cukup membeli segelas es teh. Belum terbayang jika aktivitas sederhana membagikan tautan produk kelak menjadi sumber penghasilan.
Keseriusan baru datang pada pertengahan 2024. Kala itu, ia mencoba siaran langsung menggunakan barang-barang yang ada di rumah. Tak ada studio, tak ada lampu profesional. Hanya telepon genggam dan keberanian mencoba.
Baca Juga: Pasokan BBM Bersubsidi Belum Penuhi Kebutuhan, Antrean Kendaraan Mengular di Sejumlah SPBU Kutim
Sebulan kemudian, akumulasi komisi yang masuk mencapai sekitar Rp2,5 juta. "Lumayan banget. Dari situ baru kepikiran, ternyata kalau diseriusin bisa menambah pemasukan. Suami juga memperbolehkan, karena aku tetap bisa urus rumah dan anak. Aku bahkan bisa upgrade handphone dari hasil ngonten," kenangnya lalu tertawa pelan.
Baginya, menjadi afiliator bukan sekadar mengunggah tautan belanja. Ia harus terus memikirkan ide konten agar orang mau berhenti menggulir layar, menonton, lalu mengklik produk yang direkomendasikan.
Orang tua sempat mempertanyakan pekerjaannya. Mereka sulit percaya hanya dari membuat video seseorang bisa memperoleh penghasilan. "Apa sih kayak gitu doang? Emang ada duitnya?" begitu pertanyaan yang paling sering ia dengar. Baru setelah Marni menunjukkan tangkapan layar komisi tahunannya yang telah mencapai dua digit, keraguan itu perlahan hilang.
Tak semua video menghasilkan komisi. Ada yang hanya ditonton puluhan orang. Ada pula yang mendadak viral dan mendatangkan pesanan dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, konsistensi menjadi kunci. Tidak ada yang tahu, mana video yang akan mendatangkan cuan.
REZEKI DARI LAYAR
Kepala Keahlian E-Commerce dan E-Business Integrated Laboratory (I-Lab) Universitas Mulawarman Hario Jati Setyadi menilai berkembangnya afiliator merupakan bagian dari perubahan ekosistem bisnis digital yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, konsep memperoleh komisi dari penjualan sebenarnya bukan hal baru. Sistem serupa sudah lama dikenal dalam bentuk referral sales atau perantara penjualan. "Yang berubah itu struktur ekosistemnya. Ada platform-nya. Sekarang semuanya bisa dilacak secara real time, pembayaran otomatis, jangkauannya jauh lebih luas dan tidak perlu stok barang," jelasnya.
Jika perdagangan konvensional mengharuskan pelaku usaha memiliki toko dan modal barang, Hario menyebut afiliator hanya membutuhkan kemampuan membangun audiens dan membuat konten yang dipercaya.
Bahkan, semakin tinggi reputasi seorang afiliator di platform digital, semakin besar peluang memperoleh sampel produk gratis dari berbagai merek untuk diulas. "Kalau levelnya sudah tinggi, brand justru menawarkan produknya untuk direview," sambung Hario yang juga nyemplung di dunia tersebut, dia menyebut dirinya dosen affiliate.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga membuat produksi konten semakin mudah. Kini gambar produk dapat diubah menjadi video promosi hanya dalam hitungan menit. Namun, Hario mengingatkan bahwa teknologi bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Kepercayaan audiens justru menjadi aset paling mahal.
Baca Juga: Proyek Infrastruktur Dongkrak Kredit Sektor Konstruksi 25,51 Persen
Ia menilai banyak afiliator gagal bertahan karena terlalu mengejar penjualan tanpa menjaga kejujuran dalam mengulas produk. "Kalau review tidak sesuai kenyataan, trust hilang. Sekali orang kecewa, mereka belum tentu kembali membeli dari kita," ujarnya.
Sehingga afiliator dituntut membangun reputasi secara konsisten melalui berbagai platform sekaligus atau omnichannel. Instagram digunakan membangun awareness, TikTok memperluas jangkauan, sementara YouTube dimanfaatkan untuk ulasan yang lebih mendalam.
Strategi itu membuat pemasaran tak lagi bergantung pada toko fisik. "Kalau dulu untuk berusaha harus punya barang. Sekarang untuk berusaha yang dibutuhkan adalah punya audiens dan tahu cara memasarkannya," ungkapnya dalam sebuah wawancara paruh Juli lalu.
Menurut Hario, perubahan tersebut juga membuka banyak jenis pekerjaan baru. Tak hanya afiliator, tetapi juga editor konten, spesialis AI, pengelola iklan digital, hingga pengembang strategi pemasaran lintas platform.
Ia menyebut model bisnis itu masih memiliki ruang tumbuh yang besar karena biaya memulainya relatif rendah. "Modalnya nyaris nol. Yang penting punya ponsel, memahami platform digital, lalu konsisten membuat konten. Dan penting juga untuk didata agar bisa ketemu kebijakan yang melindungi usaha di dunia digital," beber Hario.
MEMBACA ARAH PERUBAHAN
Perubahan cara masyarakat mencari penghasilan itu menjadi perhatian Badan Pusat Statistik (BPS). Kepala BPS Kaltim Mas'ud Rifai mengatakan, kemunculan afiliator, kreator konten, hingga berbagai usaha digital menunjukkan struktur ekonomi masyarakat terus berubah.
Menurutnya, gejala tersebut sebenarnya sudah terlihat dalam berbagai survei. Namun, besarnya perubahan baru dapat diukur melalui Sensus Ekonomi (SE) 2026. "Gejalanya sudah kelihatan. Tapi besarannya belum tahu. Sebaran per wilayahnya juga belum tahu. Itu yang dijawab lewat sensus," jelasnya.
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu titik yang mempercepat perubahan tersebut. Kebiasaan masyarakat bertransaksi bergeser ke ruang digital, diikuti lahirnya berbagai model usaha baru.
"Counter pulsa jauh berkurang karena orang bisa membeli langsung dari telepon genggam. Sekarang muncul profesi-profesi baru seperti afiliator, social media specialist, dan usaha-usaha digital lainnya," urai Mas'ud.
Baca Juga: Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, RSKD Balikpapan Gelar Workshop Nakes Puskesmas
Ia menilai perubahan itu merupakan proses yang tidak bisa dihindari. Dalam ekonomi, masyarakat akan selalu mencari cara yang lebih efisien untuk berusaha maupun bertransaksi. Kalau dahulu seseorang harus mendatangi beberapa toko untuk membandingkan harga, kini semua bisa dilakukan hanya melalui layar ponsel.
Karena itulah, pemerintah perlu mengetahui seberapa besar perubahan tersebut agar kebijakan yang disusun benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. "Yang ingin kita ukur itu seberapa besar pergeserannya, bergeraknya ke mana, jenis usahanya apa saja. Dari situ baru bisa disusun kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Mas'ud mencontohkan, hasil SE 2006 menjadi dasar lahirnya berbagai kebijakan penguatan UMKM, karena ternyata 99,8 persen struktur ekonomi Indonesia adalah pelaku UMKM. Sepuluh tahun kemudian, SE 2016 menunjukkan masih rendahnya akses pembiayaan pelaku usaha sehingga pemerintah memperluas berbagai program pendanaan bagi UMKM.
Sehingga bukan tidak mungkin SE 2026 juga akan menghasilkan rekomendasi kebijakan baru untuk mendukung ekonomi digital yang kini berkembang semakin pesat.
Mungkin sepuluh tahun lalu, Marni akan disebut ibu rumah tangga biasa. Hari ini, ia adalah pelaku ekonomi digital. Ketika SE 2026 selesai dihitung, nama Marni mungkin hanya akan menjadi satu titik kecil dalam jutaan data. Namun di balik satu titik itulah, tersimpan cerita tentang bagaimana Indonesia perlahan mengubah cara warganya mencari nafkah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo