KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Fungsi intermediasi perbankan di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan penguatan pada triwulan I 2026. Penyaluran kredit tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, bahkan kembali melampaui rata-rata pertumbuhan nasional.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, kredit perbankan di Kaltim pada triwulan I 2026 tumbuh 9,46 persen secara tahunan (year on year/yoy). Nilai outstanding kredit mencapai Rp205,41 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2025 yang hanya tumbuh 3,39 persen (yoy). Sementara secara nasional, pertumbuhan kredit tercatat 8,93 persen (yoy). "Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit Kaltim pada periode laporan kembali berada di atas capaian nasional, mencerminkan tetap kuatnya permintaan pembiayaan dan optimisme pelaku ekonomi terhadap prospek perekonomian daerah," beber Jajang kepada Kaltim Post, Selasa (28/7).
Baca Juga: Tekan Kasus Stroke di Samarinda, Diskes Fokus Kendalikan Hipertensi dan Diabetes
Penguatan kredit terutama ditopang lonjakan kredit modal kerja yang tumbuh 18,14 persen (yoy). Angka itu melonjak tajam dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya 3,02 persen. Menurut Jajang, peningkatan tersebut menunjukkan kebutuhan pembiayaan dunia usaha semakin besar, terutama pada sektor perdagangan yang menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Kaltim.
Selain itu, kredit investasi juga membaik dengan pertumbuhan 4,56 persen (yoy), naik dibandingkan triwulan sebelumnya 2,50 persen. Kondisi tersebut mencerminkan aktivitas investasi dan ekspansi usaha yang masih berlangsung di berbagai sektor ekonomi. Di sisi lain, kredit konsumsi tetap tumbuh positif 5,34 persen (yoy) meski sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 6,21 persen.
"Kinerja yang tetap positif tersebut menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih terjaga dan terus memberikan kontribusi terhadap aktivitas perekonomian daerah," kata Jajang. Berdasarkan golongan debitur, kredit masih didominasi korporasi dengan pangsa 65,99 persen dari total penyaluran kredit. Sementara debitur perseorangan memiliki porsi 28,05 persen, sedangkan pemerintah 0,42 persen.
Di tengah ekspansi kredit tersebut, kualitas pembiayaan tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat 1,42 persen, jauh di bawah ambang batas aman 5 persen.
"Kondisi tersebut mencerminkan ketahanan sektor perbankan yang tetap baik di tengah meningkatnya aktivitas penyaluran kredit. Terpeliharanya kualitas kredit tersebut tidak terlepas dari konsistensi perbankan dalam menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko yang baik," tutup Jajang. (riz)
Editor : Muhammad Rizki