KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Untuk memastikan keamanan dan kelayakan material yang digunakan, PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam melakukan serangkaian penelitian ilmiah terhadap residu karbit.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa implementasi inovasi dilakukan berdasarkan kajian akademik dan memenuhi standar lingkungan yang berlaku.
Hasil pengujian Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) menunjukkan bahwa residu karbit yang dihasilkan SBMA memenuhi parameter yang dipersyaratkan serta tidak memiliki karakteristik pencemar yang berpotensi membahayakan lingkungan.
"Temuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa material hasil samping produksi memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali secara bertanggung jawab sebagai bahan baku alternatif dalam industri konstruksi," jelas Presiden Direktur PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk Rini Dwiyanti.
Baca Juga: SBMA Mulai Wujudkan Ekonomi Sirkular, Residu Produksi Diolah Jadi Paving Block
Keberhasilan penelitian tersebut sekaligus menjadi fondasi ilmiah bagi pengembangan proyek paving yang tengah dijalankan Perseroan. Dengan dukungan hasil riset dari institusi akademik, SBMA menilai inovasi ini dapat menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular di industri gas nasional yang mengedepankan aspek keselamatan, keberlanjutan, dan efisiensi.
Rini mengatakan kedatangan mesin paving merupakan tonggak penting dalam perjalanan transformasi bisnis Perseroan menuju perusahaan yang semakin berorientasi pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Kedatangan mesin paving ini merupakan bukti bahwa komitmen sustainability SBMA tidak berhenti pada perencanaan, tetapi diwujudkan melalui langkah-langkah nyata.
Kami percaya bahwa inovasi harus mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Didukung oleh hasil penelitian bersama UGM, kami optimistis proyek ini akan menjadi salah satu implementasi nyata konsep circular economy di industri gas nasional," ujar Rini.
Baca Juga: KUR Kaltim Tembus Rp2,13 Triliun, Hampir 27 Ribu Pelaku Usaha Dapat Suntikan Modal
Menurutnya, pengembangan pabrik paving juga menjadi bagian dari strategi Perseroan dalam menciptakan nilai tambah dari setiap proses produksi. Melalui pemanfaatan residu karbit, SBMA berupaya mengubah hasil samping yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi optimal menjadi produk yang dapat memberikan manfaat bagi industri konstruksi sekaligus mendukung pengurangan limbah operasional.
Strategi tersebut dinilai sejalan dengan meningkatnya tuntutan dunia usaha terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab. Tidak hanya mengejar pertumbuhan finansial, perusahaan juga dituntut mampu menghadirkan inovasi yang memperhatikan aspek lingkungan, efisiensi sumber daya, serta keberlanjutan jangka panjang.
Komitmen SBMA dalam menjalankan praktik bisnis berkelanjutan juga memperoleh pengakuan di tingkat nasional. Pada ajang Energy Executive Award 2026, Presiden Direktur SBMA Rini Dwiyanti menerima penghargaan Leadership Towards Energy Sustainability sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan dan konsistensinya dalam mendorong implementasi bisnis berkelanjutan di sektor energi.
Penghargaan tersebut memperkuat posisi SBMA sebagai salah satu perusahaan yang aktif mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis. Tidak hanya melalui kebijakan perusahaan, implementasi ESG juga diwujudkan dalam bentuk investasi, inovasi teknologi, kolaborasi dengan dunia akademik, hingga pengembangan produk yang memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat.
Ke depan, Perseroan optimistis pembangunan pabrik paving akan menjadi salah satu motor pertumbuhan baru yang mampu memperkuat kinerja perusahaan. Diversifikasi usaha berbasis inovasi diharapkan dapat memperluas portofolio bisnis SBMA sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan di tengah dinamika industri nasional.
Baca Juga: Kredit Bermasalah di Kaltim Masih Aman, NPL Mahulu Cuma 0,05 Persen
"SBMA ingin membuktikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep atau komitmen di atas kertas, melainkan strategi bisnis yang diwujudkan melalui investasi nyata, pengembangan teknologi, riset ilmiah, serta pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien, " tandasnya.
Dengan demikian, Perseroan berharap dapat terus menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan sekaligus memberikan kontribusi terhadap pembangunan industri nasional yang lebih hijau dan berdaya saing. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo