KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Laju inflasi Kalimantan Timur masih bergerak naik pada Juli 2026. Kenaikan harga yang terjadi di berbagai kelompok pengeluaran membuat inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 3,31 persen. Kelompok transportasi dan perawatan pribadi menjadi dua penyumbang terbesar terhadap kenaikan harga di Bumi Etam.
Berdasarkan pemantauan di empat kabupaten/kota, Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2026 tercatat 112,59. Angka tersebut meningkat dibandingkan IHK Juli 2025 yang berada di level 108,98. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Mas’ud Rifai menjelaskan, inflasi tahunan dipicu kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi mencatat kenaikan tertinggi 9,83 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 10,16 persen.
Baca Juga: Beli Mobil dan Motor Listrik Bakal Dapat Insentif, Purbaya Ungkap Pemerintah Masih Hitung Skemanya
Adapun kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 2,77 persen. Kelompok lain yang juga mengalami kenaikan antara lain pakaian dan alas kaki 0,68 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,23 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga 2,15 persen, kesehatan 2,19 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,49 persen, pendidikan 1,53 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran 1,77 persen.
"Sebaliknya, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,48 persen," paparnya.
Dari sisi andil terhadap inflasi, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,28 persen. Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,83 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,69 persen.
Baca Juga: Harga TBS Sawit Kaltim Naik Lagi, CPO Menguat, Petani Plasma Diuntungkan
Sementara itu, komoditas yang paling dominan mendorong inflasi tahunan antara lain bensin, emas perhiasan, angkutan udara, ikan layang, sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, beras, ikan tongkol, minyak goreng, pelumas atau oli mesin, sewa rumah, biaya pemeliharaan kendaraan, air kemasan, nasi dengan lauk, biaya akademi atau perguruan tinggi, sepeda motor, bakso siap santap, popok bayi sekali pakai, sigaret kretek tangan (SKT), serta solar.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi karena mengalami penurunan harga. Di antaranya tomat, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, bawang merah, ikan gabus, tas sekolah, biaya sekolah menengah pertama, sabun detergen bubuk, kacang panjang, parfum, tahu mentah, pengharum cucian, cabai merah, mobil, daun bawang, kentang, tarif air minum PAM, blus wanita, terong, hingga sepatu wanita. (*)
Editor : Duito Susanto