Literasi dan Numerasi Balikpapan Jadi Sorotan, KIARA Satukan Penggerak Lindungi Hak Anak

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 20:07 WIB
PENGASUHAN ANAK: Perwakilan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media hingga masyarakat mengikuti Kelas Inspirasi Antar Penggerak garapan Tanoto Foundation, Selasa (4/8). ANGGI/KP
PENGASUHAN ANAK: Perwakilan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media hingga masyarakat mengikuti Kelas Inspirasi Antar Penggerak garapan Tanoto Foundation, Selasa (4/8). ANGGI/KP

KALTIMPOST.ID, ‎BALIKPAPAN – Upaya membangun generasi emas tidak cukup hanya mengandalkan sekolah atau keluarga semata. Dibutuhkan gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat.

‎Semangat itulah yang menjadi ruh penyelenggaraan KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak) bertema "Penggerak Bersinergi, Hak Anak Terlindungi" yang digelar Selasa (4/8) di Aula Lantai 4 Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan.

‎Kegiatan yang diinisiasi Tanoto Foundation ini mempertemukan berbagai unsur pentahelix untuk membangun komitmen bersama dalam memperkuat pengasuhan dan stimulasi dini anak (Parenting and Early Stimulation/PES) serta literasi dan numerasi dasar (Foundational Literacy and Numeracy/FLN).

Baca Juga: Pemangkasan TKD dan Masa Depan Pembangunan Daerah

‎"Tidak hanya berupa talkshow, kegiatan ini juga dilanjutkan dengan workshop penyusunan rencana aksi yang akan ditindaklanjuti bersama," ucap Regional Lead Kalimantan Tanoto Foundation Roselina Ping Juan.

‎Perempuan yang akrab disapa Ping itu menjelaskan, KIARA merupakan forum advokasi regional yang dirancang untuk menjembatani berbagai pemangku kepentingan agar mampu menerjemahkan isu pengasuhan, literasi, dan numerasi ke dalam kebijakan daerah.

‎"KIARA mempertemukan seluruh penggerak, mulai dari pemerintah daerah, komunitas, akademisi, dunia usaha, media, hingga masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap anak usia dini dan pendidikan. Kami ingin forum ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi menghasilkan rencana aksi yang benar-benar bisa ditindaklanjuti bersama," jelasnya.

‎Menurut Roselina, Tanoto Foundation selama ini memfokuskan advokasi pada dua isu utama, yakni pengasuhan dan stimulasi dini anak serta penguatan literasi dan numerasi sebagai fondasi pembelajaran sepanjang hayat.

Baca Juga: Loloskan Berapa Warga Lokal? Pemprov Kaltim Minta Kejelasan Data Manajer Koperasi Merah Putih dari Pusat

Ia menilai kedua aspek tersebut menjadi bekal penting bagi anak untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. ‎Karena itu, hasil workshop KIARA nantinya diharapkan mampu melahirkan rekomendasi yang dapat diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.

‎"Kami ingin ada tindak lanjut nyata. Forum ini menghasilkan rencana aksi bersama yang bisa menjadi dasar penguatan kebijakan daerah sehingga ekosistem pengasuhan, literasi, dan numerasi semakin kuat," katanya.

‎Lebih lanjut lagi, Ping berujar, Balikpapan menjadi salah satu daerah yang terus memperkuat integrasi PES dan FLN ke dalam dokumen perencanaan pembangunan. Mulai dari memasukkan indikator tersebut dalam RPJMD dan RKPD, penyusunan Rencana Aksi Daerah PAUD HI, hingga penguatan layanan dasar yang berpihak pada anak.

‎Berdasarkan paparan Tanoto Foundation, sejumlah indikator masih memerlukan perhatian. Tingkat literasi Balikpapan tercatat sebesar 69,21 persen, sementara numerasi berada di angka 44,48 persen. Di sisi lain, Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap layanan PUSPAGA mencapai 89,94, sedangkan Indeks Pemenuhan Hak Anak berada pada angka 61,27. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
literasi Balikpapan numerasi Balikpapan hak anak Balikpapan pengasuhan anak tanoto foundation