KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Bunda PAUD Balikpapan Nurlena yang membuka kegiatan KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak) bertema "Penggerak Bersinergi, Hak Anak Terlindungi" di Aula Lantai 4 Dinas Perpustakaan dan Arsip Balikpapan menegaskan, bahwa pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, kualitas generasi masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga dipengaruhi pola pengasuhan, kesehatan, karakter, lingkungan yang aman, serta kesempatan anak berkembang sesuai potensinya.
"Anak-anak adalah amanah Tuhan sekaligus investasi paling berharga bagi masa depan bangsa. Karena itu, keberhasilan mereka tidak mungkin menjadi tanggung jawab satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi keluarga, satuan pendidikan, pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa," ujarnya, Selasa (4/8).
Baca Juga: Literasi dan Numerasi Balikpapan Jadi Sorotan, KIARA Satukan Penggerak Lindungi Hak Anak
Nurlena menilai masa emas pertumbuhan anak merupakan fase yang tidak dapat diulang. Oleh sebab itu, perhatian terhadap gizi, pola asuh, stimulasi, hingga lingkungan belajar harus dimulai sejak awal kehidupan anak, bukan ketika mereka memasuki bangku sekolah.
"Investasi terbaik bukan dimulai saat anak masuk sekolah dasar, melainkan sejak awal kehidupannya. Apa yang kita tanam pada masa emas pertumbuhan akan menentukan kualitas generasi di masa depan," tuturnya.
Ia juga menyoroti tantangan perkembangan teknologi digital yang membuat anak-anak semakin larut dengan gawai dan media sosial sehingga mulai kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
"Kita melihat anak-anak sekarang sering terlalu fokus pada gawainya. Di bandara, di pelabuhan, bahkan di tempat umum mereka tidak lagi memperhatikan situasi di sekitarnya. Ini menjadi tantangan bersama bagaimana kita membangun kembali kepedulian dan karakter anak sejak dini," ucapnya.
Baca Juga: Pemangkasan TKD dan Masa Depan Pembangunan Daerah
Nurlena mengingatkan bahwa kasih sayang kepada anak bukan berarti selalu memenuhi seluruh keinginannya. Orang tua, menurutnya, harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
Ia berharap KIARA menjadi ruang lahirnya inovasi, rekomendasi, serta komitmen lintas sektor yang mampu memperkuat kebijakan daerah dalam mewujudkan lingkungan yang aman, inklusif, ramah anak, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
"Saya percaya ketika keluarga memperkuat pengasuhan, sekolah menghadirkan pembelajaran berkualitas, masyarakat menciptakan lingkungan yang aman, dunia usaha menunjukkan kepedulian, dan pemerintah menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada anak, maka kita sedang membangun fondasi yang kokoh menuju Generasi Emas Indonesia 2045," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo