KALTIMPOST.ID-Kinerja industri perhotelan di Balikpapan memperlihatkan tren pemulihan yang semakin konsisten.
Setelah sempat tertekan pada awal 2026, tingkat penghunian kamar hotel berbintang perlahan kembali meningkat hingga mencapai 59,02 persen pada Juni 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan memperlihatkan perjalanan okupansi hotel selama setahun terakhir mengalami fluktuasi.
“TPK (tingkat penghunian kamar) sempat berada di level 64,69 persen pada November 2025, sebelum turun bertahap hingga menyentuh titik terendah pada Maret 2026 sebesar 47,31 persen,” tutur Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama Prianto.
Baca Juga: Viral Komentar Dokter kepada Pasien, IDI Balikpapan Tegaskan Pentingnya Etika Profesi di Rumah Sakit
Memasuki triwulan kedua 2026, kondisi mulai berubah. Okupansi meningkat menjadi 49,91 persen pada April, kemudian naik lagi menjadi 55,98 persen pada Mei dan mencapai 59,02 persen pada Juni.
Kenaikan tersebut sekaligus mengembalikan tingkat hunian hotel mendekati rata-rata sebelum mengalami perlambatan.
Tren kenaikan dalam dua bulan terakhir kata Marinda menunjukkan permintaan terhadap jasa akomodasi kembali meningkat.
“Pada Juni 2026, TPK hotel berbintang mencapai 59,02 persen atau meningkat 3,04 poin dibandingkan Mei 2026. Jika dibandingkan Juni tahun lalu juga mengalami kenaikan sebesar 3,12 poin,” kata Marinda.
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dari meningkatnya jumlah kamar yang terisi, tetapi juga dari bertambahnya rata-rata lama menginap tamu menjadi 1,86 hari. Dua indikator tersebut menunjukkan kualitas kunjungan ke Balikpapan juga mengalami perbaikan.
Meski demikian, kondisi antar-klasifikasi hotel masih bervariasi. Hotel bintang tiga menjadi penyumbang okupansi tertinggi dengan tingkat hunian mencapai 67,85 persen.
Di sisi lain, hotel bintang lima masih mencatat penurunan secara tahunan, meskipun mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Perbaikan yang terjadi selama Juni menjadi modal penting bagi industri perhotelan memasuki semester kedua 2026.
Seiring meningkatnya agenda pemerintahan, kegiatan bisnis, pertemuan, serta mobilitas masyarakat menuju Balikpapan sebagai salah satu kota penyangga Ibu Kota Nusantara, kebutuhan akomodasi diperkirakan tetap terjaga.
“Bagi pelaku usaha, tren ini menjadi harapan bahwa sektor pariwisata dan jasa akomodasi mulai meninggalkan fase perlambatan dan bergerak menuju pemulihan yang lebih stabil,” harapnya. (rd)
Editor : Romdani.