Okupansi Hotel Balikpapan Turun Lagi, PHRI: Hotel Bintang 4 dan 5 Masih Sulit Bangkit

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 19:18 WIB
TIARAP: Kegiatan pemerintahan belum kembali seperti sebelum adanya kebijakan efisiensi anggaran. Kondisi tersebut membuat hotel bintang empat dan lima sulit mendongkrak okupansi.
TIARAP: Kegiatan pemerintahan belum kembali seperti sebelum adanya kebijakan efisiensi anggaran. Kondisi tersebut membuat hotel bintang empat dan lima sulit mendongkrak okupansi.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Harapan pelaku industri perhotelan di Balikpapan untuk menikmati tren pemulihan pada semester kedua 2026 belum sepenuhnya terwujud. Setelah mencatat peningkatan tingkat hunian kamar pada Juni, okupansi hotel kembali mengalami penurunan sepanjang Juli. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan sektor akomodasi masih berjalan tertatih dan belum memasuki fase yang stabil.

Hal tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto, Jumat (7/8). Dia mengatakan capaian pada Juni sempat memberikan optimisme bagi pengelola hotel. Dibandingkan Mei, tingkat hunian kamar mengalami peningkatan sehingga pelaku usaha berharap tren positif itu berlanjut memasuki Juli dan bulan-bulan berikutnya.

"Juni kemarin lumayan dibandingkan Mei, naik. Kami sempat berpikir semester kedua mulai membaik. Tapi ternyata masuk Juli turun lagi," kata Soegianto. Menurutnya, penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap jasa akomodasi masih belum cukup kuat untuk menopang bisnis hotel secara berkelanjutan.

Baca Juga: Tak Berhenti di Diskusi, KIARA Tanoto Foundation Siapkan Aksi Nyata Pengasuhan dan Literasi Anak

Aktivitas yang menjadi sumber utama okupansi, khususnya kegiatan pemerintahan, masih belum kembali seperti sebelum adanya kebijakan efisiensi anggaran. Ia menjelaskan kondisi tersebut paling dirasakan hotel berbintang empat dan lima. Tingkat hunian kedua segmen itu masih sulit menembus angka 40 persen secara konsisten, berbeda dengan hotel bintang dua dan tiga yang relatif lebih baik.

"Kalau hotel bintang dua dan tiga mungkin masih bisa 60 persen. Tapi hotel bintang empat dan lima, mencapai 40 persen saja masih berat. Jadi kondisinya memang belum stabil," ujarnya.

Soegianto mengaku sempat memperkirakan pola bisnis hotel tahun ini akan mengikuti siklus tahunan, di mana okupansi biasanya meningkat pada paruh kedua tahun seiring bertambahnya agenda rapat, seminar, maupun kegiatan instansi pemerintah. Namun, pola tersebut belum terlihat pada 2026.

"Biasanya Juli sampai Desember itu lebih baik dibanding Januari sampai Juni. Tahun ini belum kelihatan seperti itu," tuturnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Penelitian, Universitas Mulia Turunkan Hasil Riset PAUD Langsung ke Masyarakat

Meski demikian, PHRI masih menyimpan harapan terhadap sejumlah agenda berskala nasional yang akan digelar di Balikpapan pada sisa tahun ini. Di antaranya turnamen bulu tangkis yang diselenggarakan oleh Bayan pada 24–29 Agustus, kegiatan PDAM pada Oktober, serta sejumlah festival daerah yang diperkirakan mampu mendatangkan peserta dari berbagai wilayah.

Menurut Soegianto, rangkaian kegiatan tersebut diharapkan mampu mengangkat kembali tingkat hunian hotel, meski dampaknya belum tentu langsung signifikan. "Posisi kami sekarang masih tiarap. Harapannya, event-event yang akan datang bisa menjadi pemicu agar okupansi hotel kembali bergerak naik dan lebih stabil sampai akhir tahun," ucapnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
tingkat hunian hotel Hotel Balikpapan PHRI Balikpapan okupansi hotel Balikpapan industri perhotelan balikpapan