KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ada pertemanan yang berhenti di lingkaran nongkrong. Ada pula yang tumbuh menjadi perjalanan panjang, bahkan berujung menjadi bisnis bersama. Kisah itu dijalani Nurul Ulfa dan Aisyah Fadhilla Riefya.
Keduanya pertama kali bertemu saat menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) pada 2017. Dari bangku kuliah, perjalanan mereka terus beririsan.
Keduanya sama-sama melanjutkan pendidikan hingga jenjang S1 di Surabaya, kemudian kembali dipertemukan di Bandung saat menempuh pendidikan S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Alih-alih sekadar menjadi teman kuliah, keduanya sudah terbiasa mencoba berbagai hal bersama. Bahkan, jauh sebelum serius membangun bisnis, mereka berdua pernah berjualan kerupuk seblak saat kuliah di Bandung. “Dari kampus juga udah suka yang jualan. Kita pernah jualan kerupuk seblak,” urai Aisyah atau akrab disapa Aii lalu tertawa.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Baru Akhir Pekan Ini, Ceritanya Bikin Penasaran dari Drama hingga Horor
Ide itu muncul setelah mereka melihat kebiasaan mahasiswa di lingkungan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang menjual karya di lorong kampus. Ada yang menawarkan art print, pin hingga karya kerajinan.
Dari sana, mereka melihat peluang lain. Mereka memilih menjual makanan ringan karena menilai mahasiswa tidak selalu mudah keluar kampus untuk mencari jajanan. Perjalanan keduanya kembali berlanjut setelah sama-sama menyelesaikan pendidikan. Namun, keputusan untuk membangun usaha bersama tidak langsung terjadi.
Aii sempat berada dalam situasi yang membuatnya belum bisa bekerja. Ia kemudian dihadapkan pada pilihan untuk membangun usaha atau melanjutkan pendidikan. Di sisi lain, Nurul justru tengah menghadapi kejenuhan setelah bekerja di bidang percetakan dan desain.
“Saya setelah kerja di percetakan sebelumnya. Senin sampai Sabtu tuh aku kerjanya mendesain dari pagi sampai sore. Udah sebel banget kalau di kantor capek,” ujar perempuan kelahiran 1999 itu.
Baca Juga: Stress Mulai Melanda? Lakukan 5 Aktivitas Self Care Ini Bisa Bantu Segarakan Pikiran
Keduanya kemudian kembali berdiskusi dan memutuskan melanjutkan pendidikan S2 bersama. Pada 2023, mereka menjadi mahasiswa ITB. Bagi Nuu, sapaan karib Nurul, keputusan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang telah dimulai jauh sebelumnya.
Ia sudah membangun Hey Nuu sejak 2017 sebagai studio yang melayani kebutuhan gambar, logo hingga desain. Sementara pada 2021, ia mulai mengembangkan produk merchandise dari studio tersebut.
Aii pun memiliki Ikatin Aii yang mulai dirintis dari kegemarannya membuat berbagai kerajinan utamanya macramé. Awalnya, karya-karya itu justru dibuat untuk diri sendiri dan dibagikan kepada teman. “Dia tuh suka kan bikin-bikin kayak gitu, dia kasih ke orang cuma-cuma. Kayak ya Allah, please bisnisin enggak sih karyamu ini?” kenang Nuu.
Keduanya kemudian mulai serius menjalankan bisnis setelah menyelesaikan S2 pada 2025. Titik komitmen itu ditetapkan pada 5 Januari 2026. Bukan langsung toko besar, langkah pertama mereka justru dimulai dari garasi rumah Nuu. Tempat itu menjadi basecamp sekaligus ruang kerja untuk mulai menghitung bagaimana bisnis tersebut bisa menghasilkan pemasukan.
“Kita awal-awal bikin kelas, bikin workshop, jualan brand kita. Konsinyasi kayak titip karya di kafe-kafe orang,” tutur Aii. Perlahan, tawaran kolaborasi mulai berdatangan. Dari situlah keduanya menyadari bahwa bisnis yang awalnya dijalankan sebagai eksperimen mulai memiliki pasar.
Baca Juga: KONI Balikpapan Siap Gelar Raker, Sejumlah Agenda Masuk Pembahasan
Kini, setelah tujuh bulan berjalan, keduanya telah memiliki ruang usaha di Pasar Pagi Samarinda. Tempat tersebut tidak hanya menjadi lokasi menjual karya, tetapi juga menjadi ruang untuk bekerja, membuat produk dan berinteraksi dengan pengunjung.
Meski belum sepenuhnya mengembalikan modal, Nuu dan Aii mengaku sudah mampu mendapatkan penghasilan dari bisnis tersebut. “So far kita bisa digaji dari sini walaupun masih sedikit. Tapi kita sudah dapat gaji dari sini,” kata Aii.
Perjalanan itu belum selesai. Keduanya bahkan pernah membuat kesepakatan sederhana untuk mengukur keberlangsungan bisnis. “Kita udah bilang kayak janji kita sama Allah. Kalau misalnya tiga bulan kita flop ya udah kita cari kerja,” lanjut Aii.
Namun, bisnis tersebut justru bertahan hingga bulan ketujuh. Bagi keduanya, hal itu menjadi alasan untuk terus mencoba. Impian mereka pun sederhana, bisa hidup dari karya sendiri. “Aku iri banget sama orang crafter di Bandung kayak mereka bisa hidup full comfort dari jualan macramé. Kayaknya aku mau hidup kayak gitu,” tutup Aii. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo