Lantai 7 Pasar Pagi Disulap Jadi Rumah Kreatif, 30 Brand Kaltim Kini Berkumpul di Dituju

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 15:01 WIB
KOMPAK: Berteman sejak kuliah, membuat Aisyah dan Nurul menyeriusi bisnis. Di salah satu kios di Lantai 7 Pasar Pagi, tempat mereka memiliki makna tersendiri. RORO/KP
KOMPAK: Berteman sejak kuliah, membuat Aisyah dan Nurul menyeriusi bisnis. Di salah satu kios di Lantai 7 Pasar Pagi, tempat mereka memiliki makna tersendiri. RORO/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pasar Pagi Samarinda tak lagi sekadar identik dengan aktivitas perdagangan konvensional. Di salah satu sudutnya, ruang kreatif mulai tumbuh dan mempertemukan puluhan pelaku industri kreatif dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Ruang tersebut menjadi rumah bagi Dituju, toko yang dirintis Nurul Ulfa dan Aisyah Fadhilla Riefya. Baru berjalan sekitar tujuh bulan, tempat itu telah menghimpun sekitar 30 brand kreatif dari Samarinda hingga sejumlah daerah lain di Kaltim.

Ada karya ilustrasi, stiker, scarf, gantungan, kerajinan rajut hingga berbagai produk kreatif lain. Bukan hanya produk milik dua pendirinya, sebagian besar merupakan karya pelaku kreatif yang dititipkan untuk dipasarkan.

“Kita open call lah teman-teman seniman Kaltim. Dan ternyata banyak banget keluarga kreatif di Samarinda, Balikpapan, Tenggarong gitu-gitu,” kata Nurul kepada Kaltim Post.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Baru Akhir Pekan Ini, Ceritanya Bikin Penasaran dari Drama hingga Horor

Jaringan tersebut berkembang cukup cepat. Dalam waktu sekitar dua bulan sejak membuka ruang bagi brand lain, Dituju telah menampung sekitar 30 brand.

Bagi mereka, keberadaan ruang semacam itu penting karena pelaku kreatif membutuhkan tempat untuk mempertemukan karya dengan pasar. Konsep tersebut terinspirasi dari pengalaman keduanya ketika berada di Bandung.

Di kota tersebut, mereka terbiasa menemukan ruang yang mempertemukan desainer, seniman, brand lokal hingga komunitas. Pengalaman itu kemudian memunculkan keresahan ketika mereka kembali ke Samarinda.

“Begitu kita pulang ke Samarinda tuh kayak, aduh, semua yang kita suka kok enggak ada ya?" ujar Aisyah atau akrab dipanggil Aii. Keresahan tersebut akhirnya tidak berhenti menjadi keluhan. Keduanya mencoba menciptakan ruang yang mereka rasa masih kurang di Samarinda.

Baca Juga: Resensi Toko Perlengkapan Mayat: Saat Rahasia Keluarga Menjadi Teror Mengerikan

Namun, Dituju tidak hanya dirancang sebagai tempat transaksi. Mereka juga menyiapkan aktivitas yang berkaitan dengan industri kreatif, mulai dari workshop, kegiatan membuat pin, menggambar hingga ruang bermain bagi anak-anak.

Bahkan, anak-anak yang datang bersama orang tua mereka ke Pasar Pagi bisa mengikuti aktivitas kreatif sederhana dengan biaya terjangkau. “Jadi kayak anak-anak libur sekolah, anak-anak yang ibunya jualan juga di sini, mereka main ke sini. Kita kadang kan produksi barang juga kan. Jadi mereka kita minta bikin kolase aja, kami sediakan majalah, mereka gunting-gunting,” tutur Nuu, sapaan karib Nurul.

Ruang tersebut juga menjadi tempat bagi keduanya untuk bekerja. Aktivitas produksi, desain hingga pengemasan dilakukan di lokasi yang sama. Kehadiran Dituju pun perlahan mengubah cara sebagian orang melihat Pasar Pagi.

Jika sebelumnya lokasi tersebut dianggap tidak memiliki alasan baru untuk dikunjungi anak muda, kini keberadaan toko kreatif justru menjadi salah satu pemicunya. “Orang-orang kayak, ih di Pasar Pagi ada Dituju loh,” kata Aii.

Menurutnya, pengunjung kini datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga mencari pengalaman dan melihat karya yang ditawarkan pelaku kreatif. Geliat tersebut sejalan dengan perubahan ekosistem kreatif Samarinda yang dinilai semakin ramai. Aii melihat semakin banyak anak muda yang mulai membangun komunitas dan menjalankan aktivitas kreatif secara mandiri.

“Di Samarinda sendiri lagi banyak-banyaknya Kak, teman-teman sepantaran kita tuh kayaknya semua lagi bergerak bareng-bareng bikin komunitas mereka,” ujar perempuan kelahiran 2000 itu.

Baca Juga: Ini yang Dilakukan Pegadaian Balikpapan Menggerakkan Ekonomi Warga

Sedangkan Nuu melihat perkembangan itu sebagai gerakan yang semakin beragam. Komunitas tidak hanya bergerak pada seni visual, tetapi juga isu lingkungan, bahasa Inggris, sejarah hingga aktivitas berjalan kaki dan eksplorasi kota.

“Jadi kita nggak cuma art shop, ada yang bahasa Inggris juga, ada yang apalagi ya yang sadar sampah, terus juga yang suka walking, terus jalan-jalan, ada yang sejarah juga,” kata Nuu.

Menurut dia, munculnya berbagai komunitas tersebut menunjukkan bahwa pelaku kreatif di Samarinda mulai menemukan jalannya sendiri. Mereka tidak selalu menunggu dukungan dari institusi besar untuk memulai gerakan.

Hal itu pula yang membuat Aii dan Nuu ingin tumbuh bersama ekosistem tersebut, bukan berjalan sendirian. “Kita tumbuh bareng gitu loh. Jadinya kan enggak sendirian, tapi ada teman-teman yang berbarengan kita bertumbuhnya gitu,” ujar Nuu.

Baca Juga: 6 Kesalahan Memberi Makan Kucing yang Masih Sering Dilakukan dan Bisa Ganggu Kesehatannya

Meski demikian, perjalanan Dituju belum sepenuhnya aman. Keduanya masih berjuang mengembalikan modal dan menjalankan toko sekaligus memenuhi pesanan, mengikuti pop-up event serta mengelola produk titipan.

Namun, semakin luasnya lingkaran pengunjung dan pelaku kreatif yang bergabung membuat keduanya memilih bertahan. Harapan mereka, ruang kecil di lantai tujuh Pasar Pagi itu tidak berhenti sebagai toko. Mereka ingin tempat tersebut berkembang menjadi titik temu bagi karya, komunitas dan pasar kreatif Kaltim. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
bisnis kreatif Samarinda rumah kreatif Samarinda Dituju Samarinda brand lokal Kaltim Pasar Pagi Samarinda