KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Perekonomian Balikpapan diproyeksi tetap mampu mencatatkan pertumbuhan yang kuat pada semester II 2026. Prospek tersebut ditopang peningkatan operasional Kilang Pertamina Balikpapan pasca revamp, berkembangnya industri hilirisasi berbasis sumber daya alam, investasi swasta, juga berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Prakiraan tersebut sejalan dengan membaiknya ekonomi Kaltim pada triwulan II 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kaltim tumbuh 3,35 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar 2,99 persen.
“Pertumbuhan itu didorong membaiknya lapangan usaha pertambangan dan penggalian, khususnya batu bara, serta menguatnya komponen ekspor,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan Robi Ariadi Jumat (7/8).
Baca Juga: Irish Bella Umumkan Hamil Anak Pertama dengan Haldy Sabri, Bagikan Momen Haru dengan Hasil USG
Untuk tingkat kabupaten/kota, data pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 masih menunggu rilis BPS pada September mendatang. Namun, Balikpapan pada triwulan I 2026 telah mencatat pertumbuhan sebesar 5,50 persen (yoy).
Robi menjelaskan, peningkatan kapasitas operasi Kilang Pertamina Balikpapan secara bertahap pasca revamp diprakirakan memperkuat lapangan usaha industri pengolahan yang menjadi kontributor utama perekonomian Balikpapan dengan pangsa lebih dari 50 persen.
Operasional sejumlah industri hilirisasi minyak sawit mentah yang telah berjalan sejak 2025 maupun 2026 juga diperkirakan semakin memperkuat peran sektor tersebut. “Kuatnya investasi swasta termasuk yang terkait dengan industri hilirisasi, serta terus berlanjutnya pembangunan Kawasan IKN juga bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Balikpapan di semester II 2026," tambah Robi.
Baca Juga: Jaga Keran Kas Daerah, Pemkab PPU Perketat Pengadaan Barang dan Jasa TA 2026
Dari sisi permintaan, BI Balikpapan memprakirakan tetap kuatnya pertumbuhan ekonomi Balikpapan juga didukung membaiknya komponen net export. Selain itu, meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur sekolah dan penyelenggaraan berbagai kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) diperkirakan turut menopang sektor perdagangan, transportasi, akomodasi, serta penyediaan makan dan minum.
Meski demikian, BI Balikpapan menilai sejumlah risiko eksternal tetap perlu dicermati, antara lain dinamika harga komoditas global, geopolitik yang tidak pasti dan perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama yang berpotensi memengaruhi permintaan ekspor maupun perkembangan investasi daerah.
"Kami memandang penguatan sinergi dan kolaborasi seluruh mitra strategis dan seluruh pemangku kepentingan menjadi semakin penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Robi.
Ia menambahkan, BI Balikpapan akan terus mendukung transformasi dan penguatan ekonomi daerah melalui penguatan investasi, percepatan hilirisasi industri, digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah, pengendalian inflasi, serta empat ekonomi baru. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo