KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pasar modal Indonesia tak cuma bergerak dari sisi indeks. Basis investornya juga terus melebar. Sepanjang Juli 2026 saja, jumlah investor bertambah 1,10 juta, membawa total investor pasar modal nasional menembus 30,06 juta orang.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan penetrasi pasar modal yang semakin luas di tengah penguatan ekosistem digital dan berbagai upaya pendalaman pasar yang dilakukan regulator bersama pelaku industri.
Baca Juga: IHSG Bangkit 10,51 Persen, Investor Asing Mulai Balik ke Pasar Saham
Peningkatan jumlah investor menjadi salah satu indikator bahwa akses masyarakat terhadap produk pasar modal semakin terbuka. "Pertumbuhan investor yang konsisten menunjukkan minat masyarakat terhadap instrumen pasar modal masih tinggi. Penguatan ekosistem digital juga membuat akses terhadap layanan investasi semakin mudah," jelas Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Timur dan Kalimantan (OJK Kaltim-Kaltara) Misran Pasaribu menyampaikan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) baru-baru ini.
Baca Juga: Cetak Omzet Rp1,6 Miliar, 34 Koperasi Merah Putih Balikpapan Disiapkan Jadi Pemasok Program Makan Be
Secara year to date (ytd), jumlah investor pasar modal telah tumbuh 47,63 persen. Angka tersebut mencakup investor saham maupun berbagai instrumen investasi lainnya yang tersedia di pasar modal. Pertumbuhan basis investor tersebut berjalan beriringan dengan tetap kuatnya aktivitas penghimpunan dana korporasi.
Hingga akhir Juli 2026, perusahaan domestik telah menghimpun dana Rp121,96 triliun melalui pasar modal. Dana tersebut berasal dari beragam aksi korporasi, mulai dari tujuh Penawaran Umum Saham Perdana (IPO), 12 Penawaran Umum Terbatas (PUT), sembilan Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS), hingga 105 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS.
Baca Juga: Kemarau Bikin Transportasi Sungai Lumpuh, BBM Warga Long Pahangai Mulai Dibatasi
Masih terdapat pula 15 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif mencapai Rp11,88 triliun. "Pasar modal tidak hanya menjadi tempat investasi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi alternatif sumber pendanaan bagi dunia usaha. Ini penting untuk mendukung ekspansi dan kebutuhan pembiayaan korporasi," tutur Misran.
Kanal pembiayaan alternatif juga berkembang melalui Securities Crowdfunding (SCF). Sepanjang Juli, terdapat 17 efek baru dan delapan penerbit baru dengan dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp25,79 miliar. Secara agregat, total dana yang dihimpun melalui SCF telah mencapai Rp2,01 triliun.
Sementara itu, perkembangan investasi turut terlihat pada industri pengelolaan investasi. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp663,26 triliun per 30 Juli 2026, naik 1,59 persen secara bulanan. Investor reksa dana juga mencatat net subscription Rp3,43 triliun sepanjang periode tersebut.
Menurut Misran, kombinasi bertambahnya basis investor dan tetap aktifnya korporasi mencari pendanaan memperlihatkan fungsi pasar modal sebagai sarana investasi sekaligus sumber pembiayaan ekonomi terus berkembang. (*)
Editor : Sukri Sikki