KALTIMPOST.ID, KUTAI KARTANEGARA - Subuh belum genap pukul 5, perahu-perahu nelayan di dermaga Desa Semangko, Marang Kayu sudah bergerak. Jaring ditebar, hasil tangkapan ikan kakap dan udang dimasukkan ke keranjang.
Tak jauh dari sana, di perairan Tanjung Santan, kapal tongkang besar mulai merapat. Bukan membawa minyak seperti puluhan tahun lalu. Kali ini ia mengangkut batu bara, untuk diekspor ke luar negeri.
Setelah hampir lama "tidur", jalur ekspor di pesisir Kutai Kartanegara ini kembali bernapas. Bagi warga pesisir Kukar, Tanjung Santan bukan nama baru. Sejak 1973 kawasan ini sudah jadi simpul pelayaran. Dulu ramai dengan tanker migas Pertamina. Lalu meredup.
"Zaman dulu Bea Cukai sudah ada di sini. Kapal tanker hilir mudik. Sekarang giliran batu bara," kenang Ansar K, Kepala Desa Semangko kepada Kaltim Post.
Baca Juga: Harumkan Nama Kaltim, 71 Pramuka PPU Bertolak ke Cibubur Usai Dilepas Bupati Mudyat
Kini sejarah itu diulang. Juli 2026, Terminal Khusus PT Prima Dermaga Perkasa resmi mendapat lampu hijau untuk ekspor. Legalitasnya lengkap: dari PKKPRL 2024, sertifikat operasi 2025, hingga penetapan kawasan pabean Juli 2026.
Kepala KUPP Kelas III Tanjung Santan, Abdul Wahid, menyebutnya sederhana: "Bangkit lagi." Meski statusnya Terminal Khusus dan hanya melayani 10 perusahaan tambang mitra, kembalinya aktivitas ini tetap jadi angin segar. 16 kapal domestik yang sebelumnya hilir mudik kini bertambah dengan kapal ekspor.
Yang membedakan geliat Tanjung Santan kali ini bukan hanya jumlah kapal. Tapi siapa yang dilibatkan. Di pesisir Kukar, laut dan darat tak pernah dipisahkan. Nelayan berangkat melaut, petani di darat menanam sayur dan padi. Koperasi TKBM jadi jembatan.
Data KUPP mencatat sekitar 700 tenaga kerja sudah terserap untuk bongkar muat. Kebanyakan dari Marang Kayu dan Muara Badak. "Jalannya koperasi ini nolong teman-teman yang kena PHK. Bisa kerja lagi, walau belum tiap hari," kata Anwar, tokoh masyarakat pesisir Kukar.
Baca Juga: Dokter RSUD IA Moeis Disanksi, Andi Harun Minta Inspektorat Periksa Pelanggaran
Kearifan lokal itu juga terlihat dari kesepakatan tak tertulis: kebutuhan kapal diupayakan dari hasil bumi sendiri. Ikan, sayur, beras dari kebun dan tambak warga. Bukan impor dari luar. "Kalau kapal butuh logistik, kenapa tidak ambil dari kita? Itu pesan kami ke perusahaan," ujar Anwar.
PT Prima Dermaga Perkasa pun menjalin kemitraan dengan Pemdes Semangko. Tujuannya satu: agar uang yang berputar di pelabuhan, juga mampir ke warung, pasar, dan tambak warga.
BPS mencatat 57,73 persen ekonomi Kukar 2024 masih ditopang pertambangan. Sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan menyumbang 14,48 persen. Artinya, kekuatan Kukar memang di sumber daya alam. Pertanyaannya: bisakah kekayaan itu dinikmati sampai ke pesisir?
Tanjung Santan menjawab lewat rantai sederhana. Batu bara dimuat ke kapal, lalu TKBM bekerja, kapal butuh makan, petani dan nelayan jualan dan akhirnya uang berputar di kampung. "Potensinya besar untuk teman-teman pencari kerja," kata Ansar.
Namun semua pihak sadar. Ini baru babak awal. Belum ada data pasti berapa omzet warung naik, berapa pendapatan nelayan bertambah. "Jangan sampai Tanjung Santan hanya jadi tempat lewatnya komoditas. Harus jadi simpul yang menghidupkan ekonomi daratan juga," tegas Abdul Wahid.
Baca Juga: Duka Lionel Messi, sang Ayah, Jorge Messi Meninggal Dunia, Sosok Penting dalam Karier La Pulga
Menjaga Laut Tetap Aman
Aktivitas makin ramai, tanggung jawab juga bertambah. KUPP bersama Pelindo Jasa Maritim memperkuat pemanduan dan penundaan kapal sejak Agustus 2025. Bea Cukai bersiaga di Kantor Bantu Pelayanan Tanjung Santan. Tujuannya agar geliat ekonomi tak mengorbankan keselamatan pelayaran di Selat Makassar.
Hari mulai siang. Kapal ekspor perlahan meninggalkan Tanjung Santan. Di darat, ibu-ibu di Semangko mulai menjemur ikan, anak-anak TKBM pulang membawa upah. Tanjung Santan pernah ramai karena migas. Kini ia mencoba ramai lagi karena batu bara.
Tapi harapan warga pesisir Kukar lebih dari itu. Mereka ingin, setiap kali kapal besar berangkat membawa kekayaan bumi Kukar, sebagian rezekinya tertinggal di darat. Untuk anak sekolah, untuk pasar desa, untuk masa depan pesisir. Karena bagi orang pesisir Kukar, laut bukan hanya jalan dagang. Laut adalah dapur, laut adalah nafkah, laut adalah rumah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo