KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menunjukkan pengaruhnya terhadap biaya hidup masyarakat Balikpapan. Pada Juli 2026, kelompok transportasi menjadi sumber utama inflasi bulanan setelah harga sejumlah komponen transportasi mengalami kenaikan.
Balikpapan mengalami inflasi 0,25 persen secara bulanan pada Juli 2026. Dari angka tersebut, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,31 persen.
Kenaikan tersebut kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan Robi Ariadi, berkaitan dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Salah satu komoditas yang memberikan tekanan paling besar adalah bensin.
“Inflasi yang terjadi di Balikpapan terutama bersumber dari kelompok transportasi, dengan andil sebesar 0,31 persen secara month-to-month,” kata Robi.
Baca Juga: Tekanan Harga Mereda, Inflasi Balikpapan Masih di Atas Nasional
Bensin mengalami kenaikan harga setelah Pertamina menaikkan harga Pertamax atau RON 92 mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax yang sebelumnya Rp 12.600 per liter meningkat menjadi Rp 16.650 per liter. Kenaikan harga BBM tersebut kemudian masuk ke dalam perhitungan biaya transportasi masyarakat.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berpotensi merembet ke berbagai aktivitas ekonomi yang menggunakan kendaraan sebagai bagian dari kegiatan operasional. Selain bensin, pelumas atau oli mesin turut menyumbang inflasi.
Menurut Robi, kenaikan harga oli berkaitan dengan masih tingginya harga base oil sebagai bahan baku utama pelumas yang berasal dari minyak bumi. Kondisi itu diperberat meningkatnya biaya produksi.
Baca Juga: Perwali Jam Edar Bakal Diterbitkan, "Raksasa Jalanan" yang Melanggar Diancam Denda Rp 5 Juta
Tekanan berikutnya datang dari biaya pemeliharaan atau service kendaraan. Kenaikan harga suku cadang dan bahan pendukung, termasuk pelumas, mendorong bengkel melakukan penyesuaian tarif jasa.
“Pelumas atau oli mesin mengalami peningkatan harga disebabkan oleh masih tingginya harga base oil sebagai bahan baku utama pembuatan pelumas, di tengah meningkatnya biaya produksi,” jelasnya.
Menariknya, tidak seluruh komponen transportasi mengalami kenaikan. Angkutan udara justru menjadi salah satu komoditas yang memberikan sumbangan deflasi pada Juli.
Penurunan harga tiket penerbangan tersebut didukung kebijakan penurunan harga BBM jenis avtur oleh Pertamina Patra Niaga untuk penerbangan domestik per 1 Juli 2026. Harga avtur disebut turun 14 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, sektor transportasi menjadi gambaran menarik mengenai bagaimana perubahan harga energi dapat memengaruhi inflasi secara langsung, sementara kebijakan pada komponen energi lainnya justru dapat membantu menekan harga.
"Di Balikpapan, tekanan transportasi tersebut masih diimbangi penurunan harga sejumlah kebutuhan pangan. Cabai rawit, tomat dan bawang merah mengalami penurunan seiring meningkatnya pasokan karena memasuki periode panen di sejumlah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi," ulasnya.
Robi mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
"Di tengah tekanan energi, pemerintah daerah bersama BI terus memperkuat pengendalian inflasi melalui TPID, termasuk pemantauan harga, stabilisasi pasokan dan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah," tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo