Impor Kaltim Didominasi Bahan Baku, Porsinya Tembus 97 Persen

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:13 WIB
DOMINASI: Hampir seluruh nilai impor Kaltim masuk kategori bahan baku atau penolong yang digunakan untuk menopang aktivitas industri.
DOMINASI: Hampir seluruh nilai impor Kaltim masuk kategori bahan baku atau penolong yang digunakan untuk menopang aktivitas industri.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Impor Kalimantan Timur pada Juni 2026 bukan didominasi barang jadi untuk konsumsi, melainkan kebutuhan produksi. Hampir seluruh nilai impor Bumi Etam masuk kategori bahan baku atau penolong yang digunakan untuk menopang aktivitas industri.

Impor bahan baku/penolong pada Juni mencapai USD1,17 miliar, melonjak 293,18 persen dibandingkan Mei USD298,52 juta. Angka tersebut sekaligus menjadi penggerak utama lonjakan total impor Kaltim hingga USD1,19 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, besarnya porsi bahan baku berkaitan dengan kebutuhan industri yang telah berkembang di Kaltim.

“Di Kaltim ini kan kita punya kilang minyak. Salah satu bahan baku itu kita impor minyak mentah, untuk memproduksi bahan bakarnya,” ujarnya kepada Kaltim Post.

Baca Juga: 463 Keluarga di Kaubun Masuk Data Risiko Stunting, Pemkab Kutim Perkuat Intervensi

Kebutuhan serupa juga muncul pada industri pupuk. Sejumlah bahan kimia yang menjadi input produksi harus didatangkan dari luar daerah maupun luar negeri.

Berbeda dengan barang modal seperti mesin dan peralatan produksi, impor bahan baku lebih mencerminkan kebutuhan input bagi aktivitas industri yang sudah berjalan.

Pada Juni, impor barang modal tercatat USD15,84 juta, naik 34,81 persen dibandingkan Mei. Sementara barang konsumsi hanya USD710 ribu.

Baca Juga: Aduan Warga Tak Boleh Mandek, Diskominfo Kubar Perkuat PPID dan SP4N-LAPOR!

Secara kumulatif Januari-Juni 2026, struktur impor Kaltim semakin memperlihatkan dominasi bahan baku. Nilainya mencapai USD3,85 miliar atau 97,32 persen dari total impor. Barang modal hanya menyumbang 2,61 persen dan barang konsumsi 0,07 persen.

Mas’ud menilai, komposisi tersebut berbeda dengan daerah yang sedang membangun kawasan industri baru. Daerah seperti itu cenderung membutuhkan lebih banyak mesin dan peralatan sebagai barang modal.

Sementara Kaltim, dengan basis industri yang telah berkembang, lebih banyak mendatangkan input untuk menjaga proses produksi tetap berjalan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Impor Kaltim 2026 Impor Bahan Baku Impor Kalimantan Timur bahan baku impor Kaltim BPS KALTIM