Dari Benang ke Peluang, Peserta Kelas Menjahit Disiapkan Punya Bekal Buka Usaha

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:23 WIB
KELAS: Suasana kelas menjahit batch 4 yang diadakan Roda Seni Anthaqa dan BPVP Samarinda.

 
KELAS: Suasana kelas menjahit batch 4 yang diadakan Roda Seni Anthaqa dan BPVP Samarinda.  

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bunyi mesin jahit menjadi bagian dari aktivitas peserta pelatihan menjahit yang berlangsung di Temindung Creative Hub Samarinda. Selama 18 hari, para peserta belajar dari dasar, mulai dari mengenal mesin hingga menghasilkan jahitan yang lebih rapi.

Pelatihan tersebut merupakan hasil sinergi Roda Seni Anthaqa dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda. Program tersebut menyasar peserta yang ingin memiliki keterampilan menjahit sekaligus membuka peluang usaha secara mandiri.

Salah satunya Lia Oktavia, peserta batch 4. Ketertarikannya pada dunia jahit sebenarnya bukan hal baru. Di rumah, Lia kerap memperbaiki pakaian yang rusak secara manual. Ia juga memiliki nenek yang berprofesi sebagai penjahit.

Namun, keterbatasan mesin membuat keterampilannya selama ini hanya mengandalkan jahitan tangan. Informasi pelatihan didapat Lia dari sang suami yang bekerja sebagai security di lokasi tersebut. Begitu mendengar ada pelatihan menjahit, ia langsung tertarik untuk ikut.

Kini, setelah mengikuti pelatihan, Lia justru semakin mantap menjadikan keterampilan tersebut sebagai bekal usaha. Hanya saja, langkah berikutnya harus ditunda sementara. Bukan karena kehilangan minat. Lia sedang mengumpulkan modal untuk membeli mesin jahit.

“Ngumpulin modal dulu, beli dulu mesinnya, baru lanjut ikut kelas selanjutnya (kelas mahir). Sekarang ini kan saya ikutnya kelas pemula,” ujar ibu anak satu itu.

Ia ingin mengikuti pelatihan lanjutan agar kemampuan dasarnya semakin kuat sebelum benar-benar terjun membuka usaha. Bagi Lia, kemampuan menjahit bukan sekadar keterampilan baru. Ada harapan agar aktivitas tersebut nantinya bisa menjadi sumber penghasilan dan membuatnya lebih produktif di rumah.

“Supaya ke depannya ada usaha. Supaya bisa menambah pemasukan keluarga," katanya saat ditemui Kamis (13/8) di sela-sela pelatihan.

Lia mengakui, tahap awal pelatihan terasa cukup sulit. Terlebih, dirinya belum terbiasa menggunakan mesin jahit. Namun, proses belajar selama pelatihan membuatnya perlahan memahami teknik dan posisi jahitan.

Pemilik Roda Seni Anthaqa, Emelda Andayani, mengatakan program pelatihan menjahit tersebut telah memasuki batch keempat. Pelaksanaan setiap pelatihan berlangsung selama 18 hari atau setara 180 jam pelajaran (JP), dengan kegiatan Senin hingga Jumat.

Peserta tidak hanya berasal dari wilayah sekitar lokasi pelatihan. Antusiasme datang dari sejumlah daerah, bahkan ada peserta yang harus menempuh perjalanan cukup jauh hingga memilih kos selama mengikuti pelatihan.

Peserta juga berasal dari rentang usia yang cukup beragam. Bahkan, ada peserta berusia sekitar 50 tahun yang tetap bersemangat mempelajari keterampilan baru.

Menurut Emelda, tujuan pelatihan bukan hanya membuat peserta mampu menjahit pakaian sendiri. Lebih jauh, keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi modal awal untuk masuk ke dunia usaha.

Kerja sama Roda Seni Anthaqa dengan BPVP Samarinda menjadi bagian dari upaya membuka akses pelatihan vokasi bagi masyarakat. Sementara itu, mentor pelatihan, Ellim Urniatin, mengatakan program tersebut telah berjalan dalam beberapa batch.

Untuk kelas pemula, peserta benar-benar memulai dari nol. Pada kelas tersebut, peserta belum masuk ke materi membuat pola. Mereka terlebih dahulu dibekali kemampuan dasar menjahit dengan pola yang telah disiapkan.

“Yang pemula ini benar-benar dari nol. Mereka enggak belajar pola, jadi intinya belajar jahit,” jelas Ellim.

Satu batch diikuti sekitar 16 peserta. Mayoritas memang perempuan, meski sebelumnya sempat ada peserta laki-laki yang mendaftar. Setelah menguasai dasar, peserta memiliki kesempatan melanjutkan ke kelas mahir.

Baca Juga: Kekurangan Ruang Kelas, TK Negeri 02 Samarinda Tolak Puluhan Calon Murid

Di tingkat tersebut, materi mulai berkembang ke teknik jahit yang lebih rapi atau clean sewing, pemecahan pola, hingga teknik tambahan seperti sulaman.

Ellim yang juga memiliki usaha di bidang serupa melihat langsung perkembangan sejumlah alumni. Beberapa di antaranya bahkan mulai membuka jasa jahit dan menerima pesanan sederhana. “Ada sudah yang buka usaha, permak gitu,” ujarnya.

Menurutnya, ada alumni yang sebelumnya hanya mampu melakukan permak sederhana. Setelah mengikuti pelatihan dan terus berlatih, mereka mulai berani membuka usaha sendiri hingga memasang papan nama jasa jahit.

Perjalanan para peserta setelah pelatihan itulah yang menjadi salah satu hasil yang ingin terus didorong Roda Seni Anthaqa dan BPVP Samarinda. Sebab, bagi sebagian peserta seperti Lia, pelatihan bukan menjadi garis akhir.

Justru menjadi titik awal untuk mengumpulkan keberanian, keterampilan, dan modal sebelum mesin jahit pertama benar-benar berputar di rumah sendiri. (*)

Editor : Sukri Sikki
pelatihan BPVP Samarinda program menjahit