Hilirisasi Kaltim Masih Lemah, Banyak Komoditas Dijual Mentah ke Luar Daerah

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:16 WIB
TANTANGAN: Aktivitas pengangkutan batu bara di Sungai Mahakam. Ekonomi Kaltim dinilai perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap komoditas ekstraktif dengan memperkuat industri hilir. IST/KP
TANTANGAN: Aktivitas pengangkutan batu bara di Sungai Mahakam. Ekonomi Kaltim dinilai perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap komoditas ekstraktif dengan memperkuat industri hilir. IST/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bumi Etam masih menghadapi persoalan dalam meningkatkan nilai tambah komoditas ekspornya. Di tengah besarnya potensi sektor pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan, industri pengolahan di daerah dinilai belum tumbuh optimal.

Sejumlah komoditas asal Kaltim masih keluar daerah dalam bentuk bahan mentah sebagai dampak minimnya ketersediaan industri hilirisasi. Pengolahan justru dilakukan di daerah lain sebelum produk tersebut benar-benar dipasarkan menjadi barang jadi dengan nilai jual lebih tinggi.

Sekretaris DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Kaltim, Hasrun Jaya, mengatakan persoalan hilirisasi menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam memperkuat struktur ekonomi daerah. Menurutnya, Kaltim memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekspor nonmigas. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Baca Juga: Hetifah Apresiasi Presiden, Sensus Ekonomi 2026 Jadi Fondasi Kebijakan Berbasis Data

Sebab industri pengolahan belum mampu mengikuti ketersediaan bahan baku. “Hilirisasi tidak ada. Harusnya ada peningkatan nilai jual, bukan barang mentah. Barang mentah menjadi barang setengah jadi saja,” ujarnya, Jumat (14/8).

Hasrun mencontohkan sektor perikanan. Komoditas perikanan Kaltim disebut memiliki peluang untuk masuk pasar Eropa. Hanya saja, kualitas produksi dan standar pengolahan masih perlu ditingkatkan agar dapat memenuhi persyaratan pasar internasional.

Menurut dia, pengolahan di daerah menjadi penting karena dapat meningkatkan nilai jual sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru. Dengan begitu, keuntungan dari rantai produksi tidak berhenti pada penjualan bahan baku. “Yang menjadi kendala adalah banyaknya lahan tidur yang tidak termanfaatkan. Yang kedua, semua bertumpu kepada migas dan batu bara,” katanya.

Selain lemahnya industri pengolahan, Hasrun menyoroti struktur ekspor Kaltim yang masih didominasi komoditas ekstraktif. Migas dan batu bara memang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah. Namun, ketergantungan tersebut membuat pertumbuhan ekonomi Kaltim rentan terhadap perubahan harga dan permintaan global.

Baca Juga: Listrik di Bontang Padam Empat Sesi dalam Sehari, Warga Mulai Khawatir Gangguan Terulang

“Pertumbuhan ekonomi Kaltim hanya pada sektor migas dan batu bara, itu semu. Itu sangat sensitif,” ujarnya. Karena itu, diversifikasi komoditas ekspor dinilai perlu segera dilakukan. Kaltim memiliki lahan dan sumber daya yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan komoditas nonmigas.

Hasrun mendorong pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun industri pengolahan yang terintegrasi dengan komoditas lokal. Termasuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk bernilai tambah.

Dengan penguatan hilirisasi, Kaltim diharapkan tidak lagi sekadar menjadi daerah penghasil bahan mentah. Nilai ekonomi dari proses pengolahan hingga pemasaran juga dapat lebih banyak tinggal di daerah.

Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya mengurangi ketergantungan terhadap migas dan batu bara. Sebab, ketika harga komoditas ekstraktif mengalami tekanan di pasar global, ekonomi daerah tidak ikut terpukul terlalu dalam. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
hilirisasi Kaltim industri pengolahan Kaltim Ekonomi Kaltim Ekspor Kaltim Batu Bara Kaltim