KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Ketika Robi Ariadi dipercaya menjadi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan pada 2024, tantangan pertama yang ia lihat bukan sekadar bagaimana mengejar target institusi.
Di balik indikator kinerja yang sudah tersusun, ada manusia yang harus menjalankan seluruh proses tersebut. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan memiliki sekitar 40 tenaga organik serta lebih dari 100 tenaga lainnya.
Bagi Robi, tantangan kepemimpinan adalah memastikan seluruh unsur tersebut tidak hanya bekerja untuk mencapai target, tetapi juga memiliki ruang untuk berkontribusi. “Semua terlibat dalam prosesnya. Semua juga punya ruang untuk bisa mengekspresikan idenya,” kata Robi.
Baca Juga: Desil 9-10 Disebut Paling Kaya, Lalu Anda Masuk Kelompok Mana?
Baginya, hasil tetap penting. Namun, proses untuk mencapai hasil tidak boleh diabaikan. Ia meyakini, organisasi akan lebih kuat ketika orang-orang di dalamnya dapat menikmati proses kerja. Sebab, ketika seseorang hanya takut terhadap kesalahan dan terlalu berorientasi pada hasil, ruang untuk berkembang justru menjadi terbatas.
“Kalau kita sudah bisa menikmati prosesnya, kita tidak akan takut salah,” ujarnya. Pendekatan tersebut tampaknya menjadi bagian dari cara Robi menerjemahkan kepemimpinan. Ia tidak ingin target organisasi hanya menjadi angka di atas kertas. Baginya, indikator kinerja harus menjadi arah, sementara proses kerja menjadi ruang bagi seluruh pegawai untuk tumbuh.
Hasilnya, menurut Robi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan memperoleh penilaian kinerja tinggi selama dua kali berturut-turut selama masa kepemimpinannya, serta memperoleh kategori budaya kerja.
Baca Juga: Naik Rp 100 Triliun, Anggaran Pendidikan 2027 Tembus Rp 820,9 T untuk PIP hingga Renovasi Sekolah
Bagi Robi, capaian tersebut bukan semata-mata prestasi individu. Ia justru melihatnya sebagai validasi bahwa organisasi dapat mengejar outcome sekaligus menjaga proses kerja tetap sehat.
Cara pandang itu tidak terlepas dari pengalaman panjangnya di Bank Indonesia. Sejak menjalani berbagai penugasan, Robi terbiasa melihat pekerjaan melalui aturan, tata kelola, risiko, serta integritas.
Kini, ketika berada di posisi pimpinan, pendekatan tersebut diterjemahkan dalam bentuk kepemimpinan yang memberi ruang. Menurutnya, sebuah organisasi tidak cukup hanya memiliki orang-orang yang mampu menyelesaikan pekerjaan. Mereka juga harus merasa menjadi bagian dari proses.
"Sebab, pada akhirnya, pencapaian institusi bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling depan. Ada banyak orang yang bekerja di belakang layar, menyusun langkah, menjalankan proses, dan memastikan tujuan bersama dapat tercapai" tegasnya.
Bagi Robi, di situlah arti kepemimpinan menjadi lebih luas: mencapai hasil tanpa kehilangan manusia yang berada di baliknya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo