KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – QRIS perlahan mengubah cara masyarakat melakukan transaksi. Dari pasar tradisional hingga rumah ibadah, pembayaran digital kini semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Bagi Robi Ariadi, digitalisasi pembayaran bukan sekadar perubahan cara masyarakat membayar. Di balik QRIS, ia melihat sesuatu yang lebih besar: kemudahan, keamanan, dan kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk masuk ke dalam ekosistem ekonomi digital.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan itu menyebut sekitar 95 persen transaksi QRIS berkaitan dengan UMKM. Karena itu, menurutnya, perkembangan QRIS memiliki hubungan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari. “Cepat, mudah, murah, aman, dan handal,” kata Robi menggambarkan keunggulan QRIS.
Baca Juga: Naik Rp 100 Triliun, Anggaran Pendidikan 2027 Tembus Rp 820,9 T untuk PIP hingga Renovasi Sekolah
Kecepatan menjadi salah satu alasan. Transaksi dapat berlangsung secara real time dan dana masuk ke rekening pedagang dalam waktu relatif singkat. Kemudahan juga membuat QRIS dapat digunakan berbagai kelompok masyarakat.
Menurut Robi, perkembangan tersebut tidak hanya dirasakan generasi muda. Masyarakat senior juga semakin familiar menggunakan pembayaran digital. Di Balikpapan, penggunaan QRIS menurut data yang disampaikan Robi telah menjangkau berbagai aktivitas.
"Bahkan, digitalisasi pembayaran telah masuk ke pasar tradisional, rumah ibadah hingga kelompok masyarakat seperti pengamen," sebutnya.
Ia menyebut hingga Mei, nilai transaksi QRIS di Balikpapan telah mendekati Rp 4,6 triliun dengan jumlah transaksi sekitar 43 juta. Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya aktivitas masyarakat yang mulai berpindah ke sistem pembayaran digital.
Baca Juga: Tiga Siswa SDN 009 Bontang Utara Dibawa ke Puskesmas, SPPG Bantah Berkaitan dengan MBG
Namun, semakin luas penggunaan QRIS, semakin besar pula kebutuhan masyarakat untuk berhati-hati. Robi menyinggung adanya kasus penempelan QRIS palsu di rumah ibadah yang sempat menjadi perhatian.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya melihat kemudahan transaksi, tetapi juga memastikan tujuan pembayaran sebelum melakukan pemindaian. Bagi Robi, transformasi digital harus berjalan bersama literasi.
Hal tersebut penting karena digitalisasi pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi, melainkan perlindungan terhadap masyarakat. Penggunaan pembayaran digital dapat mengurangi risiko tertentu yang selama ini muncul dalam transaksi tunai, termasuk peredaran uang palsu di pasar tradisional.
"Kasus uang palsu pun kini semakin menurun sejak adanya QRIS," tuturnya. Di titik itu, QRIS bagi Robi tidak berhenti sebagai alat pembayaran.
Ia melihatnya sebagai instrumen yang membuat transaksi menjadi lebih sederhana sekaligus membuka akses ekonomi bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya mungkin tidak terlalu dekat dengan sistem keuangan formal.
Dari pedagang kecil hingga rumah ibadah, dari generasi muda hingga masyarakat senior, QRIS perlahan menjadi bagian dari keseharian.
Baca Juga: BKN Buka Pendaftaran CPNS Sekolah Kedinasan 18 Agustus, Kuota Capai 4.770 Formasi
Dan bagi Robi, ketika teknologi dapat membuat transaksi lebih mudah, aman, serta memberi manfaat langsung kepada masyarakat, di situlah transformasi digital benar-benar memiliki arti.
"Tapi tetap, kewaspadaan dan mengotrol diri sendiri atau verifikasi itu perlu agar tidak mudah tertipu," pesan Robi mengingatkan maraknya penipuan digital. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo