Bukan Jabatan yang Ingin Ditinggalkan Robi Ariadi, Melainkan Ekonomi yang Tetap Tumbuh

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:24 WIB
LEGASI: Robi Ariadi ingin program yang dibangun bersama masyarakat tetap berjalan dan memberi manfaat meski dirinya sudah tidak lagi berada di tempat tersebut. FUAD MUHAMMAD/KP
LEGASI: Robi Ariadi ingin program yang dibangun bersama masyarakat tetap berjalan dan memberi manfaat meski dirinya sudah tidak lagi berada di tempat tersebut. FUAD MUHAMMAD/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Jabatan bisa berganti. Seorang pejabat pun pada waktunya akan meninggalkan tempat tugasnya. Namun, bagi Robi Ariadi, ada sesuatu yang seharusnya tidak ikut berhenti ketika seseorang meninggalkan sebuah jabatan: manfaat bagi masyarakat.

Robi menegaskan, ukuran keberhasilan seorang pejabat tidak berhenti pada penghargaan yang diterima kantor atau jabatan yang pernah diduduki. Ada ukuran yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit dicapai: apakah masyarakat merasa pekerjaannya membawa manfaat.

Setelah lebih dari dua dekade berkarier di Bank Indonesia, definisi sukses bagi Robi mengalami perubahan. “Sukses itu ketika kita mendapatkan konfirmasi dari masyarakat bahwa kita bermanfaat untuk mereka,” kata Robi.

Baca Juga: Naik Rp 100 Triliun, Anggaran Pendidikan 2027 Tembus Rp 820,9 T untuk PIP hingga Renovasi Sekolah

Pengalaman bertemu masyarakat di berbagai daerah membuat pandangan tersebut semakin kuat. Ia mengingat bagaimana pelaku usaha dan masyarakat menyampaikan apresiasi ketika mendapatkan pendampingan atau bermitra dengan Bank Indonesia.

Namun, ada satu hal lain yang menurut Robi lebih penting: keberlanjutan. Ketika suatu hari meninggalkan sebuah daerah atau jabatan, ia ingin program yang telah dibangun tetap berjalan. Ia tidak ingin keberadaan seorang pejabat hanya terasa selama orang tersebut masih berada di tempat.

“Saya ingin memastikan bahwa yang sudah kita lakukan dua-tiga tahun lalu masih berkelanjutan ke depan,” ungkapnya.

Pandangan tersebut kini terlihat dari program pengembangan ekonomi berbasis syariah yang sedang didorong Bank Indonesia Balikpapan. Salah satunya melalui pemanfaatan wakaf agar tidak berhenti sebagai instrumen sosial, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi produktif.

Baca Juga: BMKG Umumkan Peringatan Dini Tsunami, Ini Wilayah yang Berpotensi Terdampak

Robi mencontohkan pengembangan peternakan ayam petelur di lingkungan pesantren, yakni Al-Banjari Balikpapan. Salah satu pesantren memiliki lahan yang belum termanfaatkan secara optimal. Melalui pendekatan ekonomi produktif, lahan tersebut digunakan untuk mengembangkan usaha peternakan.

Model tersebut diarahkan agar pesantren tidak hanya bergantung pada sumber pembiayaan konvensional, tetapi mampu mengelola aset dan sumber daya yang dimiliki menjadi kegiatan ekonomi.

Hasilnya kemudian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pesantren dan memberikan nilai ekonomi yang lebih luas. Menurut Robi, program semacam itu tidak berhenti pada satu lokasi. Bank Indonesia ingin model tersebut dapat dipelajari dan direplikasi di pesantren lain.

"Selain pengembangan peternakan, terdapat pula pilot project lain seperti pengembangan ekonomi di pesantren serta proyek air bersih," ungkapnya.

Semangat yang dibawa Robi sederhana: aset yang menganggur harus dapat diubah menjadi sumber produktivitas. Pada akhirnya, ia tidak ingin masyarakat mengingat dirinya karena jabatan atau penghargaan.

Ia lebih berharap orang-orang mengingat bahwa pernah ada program yang tetap hidup setelah dirinya pergi. Seperti pengalaman yang pernah ia rasakan ketika meninggalkan penugasan sebelumnya, ketika masyarakat masih memberi kabar bahwa usaha yang pernah didorong terus berkembang.

“Ketika kita meninggalkan di manapun kita berada, itu yang paling penting,” ujarnya. Bagi Robi, mungkin itulah bentuk legasi yang sesungguhnya: bukan nama yang tertulis, tetapi manfaat yang tetap berjalan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Robi Ariadi BI Balikpapan Robi Ariadi Bank Indonesia Kepala BI Balikpapan ekonomi Balikpapan Robi Ariadi