Lahan Pesantren Disulap Jadi Peternakan, BI Dorong Jadi Penyangga Pangan Kaltim

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:21 WIB
KELOLA ASET: Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Balikpapan berhasil mengembangkan peternakan ayam petelur. Tampak aktivitas santri menyiapkan pakan ayam.
KELOLA ASET: Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Balikpapan berhasil mengembangkan peternakan ayam petelur. Tampak aktivitas santri menyiapkan pakan ayam.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Sebidang lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan kini mulai menghasilkan telur. Di lingkungan Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Balikpapan, pengembangan peternakan ayam petelur menjadi contoh bagaimana aset yang menganggur dapat diubah menjadi kegiatan ekonomi sekaligus bagian dari upaya memperkuat pasokan pangan daerah.

Program tersebut menjadi salah satu perhatian Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan. Bukan tanpa alasan. Telur ayam merupakan salah satu komoditas yang turut memengaruhi perkembangan inflasi di Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU) dan Paser.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan penguatan produksi pangan lokal penting dilakukan karena kebutuhan telur di Kaltim selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Baca Juga: Kemarau Bikin Air Bersih Ujoh Bilang Berhenti Total, PUPR Mahulu Siapkan Sumber Baru untuk 20 Tahun

"Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Sebagai bank sentral, Bank Indonesia tidak hanya berperan menjaga stabilitas nilai rupiah, melainkan secara aktif mendukung pengendalian inflasi daerah melalui penguatan sektor riil, khususnya peningkatan kapasitas produksi komoditas pangan strategis," kata Robi.

Karena itu, BI tidak hanya melihat peternakan ayam petelur dari sisi bisnis. Produksi telur lokal juga dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga. Pendekatan yang digunakan menarik karena menyasar pesantren sebagai salah satu basis pengembangan usaha.

BI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kaltim memfasilitasi sarana dan prasarana budi daya ayam petelur bagi pondok pesantren dan kelompok usaha terpilih. Pesantren dipandang memiliki modal awal berupa lahan, sumber daya manusia dan komunitas yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi.

Di Al-Banjari, misalnya, terdapat lahan sekitar 8 hektare yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Dari aset tersebut, pengembangan peternakan kemudian diarahkan agar pesantren tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi mampu menjadi pelaku ekonomi. "Kalau mereka punya lahan yang enggak terpakai, itu bisa kita manfaatkan. Mereka bisa kita latih sehingga bisa menjadi sebuah pelaku ekonomi yang bagus," ujar Robi.

Baca Juga: Listrik Sering Padam, Mahasiswa Unikarta Tuntut PLN Beri Kepastian dan Kompensasi

Hasil pengembangan di Al-Banjari menunjukkan bagaimana usaha tersebut mulai bergerak menuju kemandirian. Peternakan ayam petelur yang dikembangkan telah mencapai sekitar 2.000 ekor. Dengan jumlah santri yang mencapai hampir 900 orang, produksi telur tersebut pada awalnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan internal pesantren.

Namun, ketika produksi mulai berlebih, telur yang dihasilkan juga dapat memiliki nilai ekonomi lebih luas. "Mulai dulu dari pemenuhan kebutuhan santri. Kalau berlebih, mereka bisa jual," jelas Robi. Model tersebut menjadi gambaran bahwa usaha peternakan di pesantren tidak hanya berpotensi menciptakan pendapatan, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap pembelian kebutuhan pangan dari luar.

Di sisi lain, BI tidak ingin model tersebut hanya berhasil di satu pesantren. Penguatan kapasitas menjadi bagian penting agar usaha peternakan dapat dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

Karena itu, sebelumnya, BI Balikpapan bersama Baznas Kaltim, pemerintah daerah Balikpapan, PPU dan Paser, akademisi serta praktisi peternakan menggelar Workshop Pengelolaan Usaha Budidaya Ayam Petelur 2026. Diikuti pondok pesantren dan kelompok usaha dari Balikpapan, PPU dan Paser. Peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga menjalani praktik lapangan.

Pembelajaran diawali secara teori di KPw BI Balikpapan, kemudian dilanjutkan dengan praktik di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Selama 6 hari, peserta mendapatkan materi mengenai prospek bisnis ayam petelur, manajemen kandang, formulasi pakan, pengendalian penyakit ternak, penyusunan rencana bisnis hingga strategi pemasaran.

Peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke usaha ayam petelur yang telah berkembang di Balikpapan. Pola tersebut diharapkan membuat peserta tidak hanya memahami cara memelihara ayam, tetapi juga mampu menghitung kelayakan usaha dan mengelolanya sebagai bisnis.

Baca Juga: PAMA Salurkan Beasiswa GOTA 2026, Siswa SMA hingga Mahasiswa S-1 Dapat Dukungan Pendidikan

Robi menegaskan, penguatan produksi lokal harus dibarengi dengan kemampuan pengelolaan yang baik agar usaha dapat bertahan dalam jangka panjang. "Melalui peningkatan kapasitas produksi lokal, kami berharap ketahanan pangan daerah semakin kuat, pasokan telur lebih terjamin, inflasi dapat terkendali, sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha peternakan yang tangguh dan berdaya saing," ujarnya.

Program tersebut juga berkaitan erat dengan konsep wakaf produktif yang tengah dikembangkan BI Balikpapan. Dana wakaf masyarakat dapat diarahkan untuk membiayai proyek produktif, termasuk pengembangan peternakan ayam petelur.

Dengan demikian, terdapat dua manfaat yang ingin dibangun sekaligus. Di satu sisi, aset dan dana yang sebelumnya belum produktif dapat menghasilkan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, hasil usaha dapat membantu memenuhi kebutuhan pesantren dan memperkuat pasokan pangan lokal.

BI kini menyiapkan pengembangan model serupa ke lebih banyak pesantren. Sejumlah pesantren telah dikumpulkan dan mendapatkan pelatihan agar model yang berjalan di Al-Banjari dapat direplikasi. Selain Al-Banjari, terdapat proyek pengembangan ekonomi di Pesantren Turubus Iman Paser. Pengembangan juga diarahkan ke wilayah PPU dan daerah lainnya.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Gandeng Media Kukar Perkuat Edukasi JKN dan Tangkal Disinformasi

Bagi Robi, inti dari seluruh program tersebut bukan sekadar menciptakan proyek baru, melainkan meninggalkan sistem yang tetap hidup setelah pendampingan selesai. "Saya ingin memastikan bahwa yang sudah kita lakukan dua-tiga tahun lalu masih berkelanjutan ke depan," ungkapnya.

Menurutnya, kandang ayam di lingkungan pesantren bukan hanya berbicara soal jumlah ayam dan produksi telur. Di baliknya terdapat gagasan yang lebih besar: mengubah lahan yang sebelumnya menganggur menjadi aset produktif, menjadikan pesantren lebih mandiri, memperkuat pasokan pangan dan pada saat yang sama ikut membantu menjaga stabilitas harga di daerah.

"BI Balikpapan melihat pengembangan ayam petelur bukan semata sebagai program peternakan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang menghubungkan pemberdayaan masyarakat, ekonomi syariah dan ketahanan pangan," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
peternakan ayam petelur pesantren Pesantren Al-Banjari Balikpapan ayam petelur Balikpapan BI BALIKPAPAN Ketahanan pangan Kaltim