10 Merek Tertua di Indonesia yang Masih Bertahan hingga 2026, Ada yang Berusia 144 Tahun

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:46 WIB
Grafis istimewa
Grafis istimewa

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sejumlah merek legendaris di Indonesia ternyata telah melewati perjalanan panjang hingga lebih dari satu abad.

Ada yang lahir dari usaha rumahan, berkembang sejak era Hindia Belanda, hingga menjadi produk yang masih dikenal masyarakat sampai sekarang.

Mulai dari kecap, rokok, jamu, hingga susu, berikut deretan merek yang mencatat sejarah panjang di Indonesia.

1. Kecap Cap Istana, Berdiri Sejak 1882

Kecap Cap Istana menjadi salah satu nama yang memiliki sejarah sangat panjang. Merek ini disebut telah hadir sejak 1882 di kawasan Tangerang.

Baca Juga: Jejak Karier Mayjen TNI Rudy Saladin: Dari Ajudan Jokowi hingga Pangdam V Brawijaya

Usaha tersebut dirintis Teng Hay Soey, pedagang keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar Pasar Lama Tangerang. Setelah itu, usaha diteruskan generasi berikutnya dan tetap berjalan hingga sekarang.

Produk ini juga dikenal sebagai kecap Benteng, merujuk pada sejarah Tangerang yang dahulu mendapat julukan Kota Benteng. Proses produksinya pun masih mempertahankan sejumlah cara tradisional.

2. Dji Sam Soe, Sejak 1913

Nama Dji Sam Soe mulai dikenal sejak Liem Seeng Tee mendirikan usaha pada 1913. Bisnis yang awalnya berskala kecil tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari sejarah panjang industri rokok Indonesia.

Nama Dji Sam Soe diambil dari pelafalan angka dua, tiga, dan empat dalam bahasa China. Tingginya permintaan membuat produksinya berkembang pesat.

Pada masa kejayaannya, sekitar 1940, produksi disebut mencapai jutaan batang rokok setiap pekan. Hingga kini, Dji Sam Soe masih menjadi salah satu merek rokok legendaris yang dikenal luas.

3. Jamu Jago, Lahir pada 1918

Jamu Jago mulai dirintis pada 1918 oleh T.K. Suprana. Pada awalnya, jamu dibuat dengan metode tradisional dan dipasarkan secara terbatas di sekitar tempat usaha.

Dari Wonogiri, pemasarannya kemudian meluas ke Solo dan berbagai daerah di Pulau Jawa. Beberapa tahun kemudian, produk tersebut mulai dikenal di berbagai wilayah Nusantara.

Usaha ini terus diwariskan lintas generasi. Pusat kegiatan perusahaan kemudian dipindahkan ke Semarang pada 1945 dan mereknya tetap bertahan sampai sekarang.

4. Njonja Meneer, Sejak 1919

Satu tahun setelah Jamu Jago muncul, industri jamu Indonesia kembali mencatat nama besar melalui Njonja Meneer.

Merek ini berkaitan dengan Lauw Ping Nio, perempuan yang kemudian dikenal dengan nama Njonja Meneer. Ia memulai usaha jamu secara sederhana di Semarang dengan peralatan yang masih sangat terbatas.

Produk jamunya semakin dikenal setelah dipasarkan dari satu daerah ke daerah lainnya. Njonja Meneer kemudian berkembang menjadi salah satu nama ikonik dalam sejarah industri jamu Indonesia dan pernah mendapat julukan Ratu Jamu.

Baca Juga: Bursa Calon Kapolri 2026 Menghangat: Daftar 10 Komjen yang Berpeluang Gantikan Listyo Sigit Prabowo

5. Frisian Flag, Masuk Indonesia pada 1922

Berbeda dari sejumlah merek sebelumnya, perjalanan Frisian Flag di Indonesia bermula dari produk susu yang didatangkan dari Belanda.

Pada 1922, produk bermerek Frische Vlag mulai masuk ke Hindia Belanda. Merek tersebut kemudian berkembang dan dikenal masyarakat Indonesia sebagai Frisian Flag.

Perjalanan produksinya di dalam negeri semakin berkembang setelah pembangunan pabrik di Pasar Rebo, Jakarta, dimulai pada 1969. Produksi susu kental manis kemudian berjalan dari fasilitas tersebut sejak 1971.

6. Kapal Api, Berawal dari Usaha Kopi pada 1927

Sejarah Kapal Api berawal dari Surabaya pada 1927. Usaha tersebut dirintis Go Soe Loet, perantau asal Fujian, China, yang melihat tingginya minat masyarakat terhadap kopi.

Ia memulai bisnis dengan mengolah biji kopi melalui proses pemilihan, penyangraian dan penggilingan sebelum menjualnya kepada masyarakat.

Nama Kapal Api memiliki cerita tersendiri. Pada masa awal, produk menggunakan merek HAP Hootjan dan dikemas dengan kertas berwarna cokelat. Nama Kapal Api kemudian melekat setelah dikaitkan dengan pengalaman Go Soe Loet saat melakukan perjalanan menggunakan kapal uap menuju Jawa.

Bisnis tersebut diteruskan generasi berikutnya. Salah satu sosok yang berperan besar dalam ekspansinya adalah Go Tek Whie atau Soedomo Mergonoto.

Di bawah kepemimpinannya, pengolahan kopi mengalami modernisasi. Perusahaan bahkan mendatangkan mesin dari Jerman setelah sebelumnya mencoba mengembangkan peralatan sendiri.

Distribusi Kapal Api kemudian semakin luas. Pada 1985, produknya mulai menembus pasar ekspor. Perusahaan juga memperluas portofolio dengan menghadirkan sejumlah merek lain, termasuk Kopi ABC dan Excelso.

Baca Juga: Putra Gowa Komjen Mohammad Fadil Imran Pensiun dari Polri, Kini Jadi Komisaris MIND ID

7. Kecap Bango, Lahir dari Industri Rumahan

Kecap Bango mulai dikenal sejak 1928. Merek ini berawal dari usaha rumahan di kawasan Benteng, Tangerang.

Tjoa Pit Boen atau Yunus Kartadinata bersama istrinya, Tjoa Eng Nio, memproduksi kecap dari garasi rumah. Nama Bango dipilih dengan harapan produknya dapat berkembang dan dikenal hingga luar negeri.

Perjalanan merek tersebut sempat terhenti akibat kondisi perang. Pada 1939 hingga 1947, produksi mengalami gangguan karena sulit mendapatkan bahan baku.

Setelah kembali berproduksi, pemasaran dilakukan dengan cara sederhana, termasuk menjual produk dari rumah ke rumah. Perlahan, jangkauannya meluas ke berbagai daerah di Jawa, Sumatera dan Manado.

Perkembangan industri membuat fasilitas produksi terus diperkuat. Pabrik Bango kemudian dibangun di Subang pada akhir 1990-an.

Pada 2001, Bango menjadi bagian dari Unilever. Meski mengalami perubahan kepemilikan, merek tersebut tetap mempertahankan namanya dan terus hadir sebagai salah satu produk kecap yang populer di Indonesia.

8. Tolak Angin, Racikan Jamu Sejak 1930

Tolak Angin memiliki sejarah yang tidak langsung dimulai dalam bentuk kemasan seperti yang dikenal masyarakat saat ini.

Cikal bakalnya muncul pada 1930 ketika Rakhmat Sulistio mulai meracik minuman herbal berbahan rempah. Saat itu, ia bersama suaminya, Siem Thiam Hie, menjalankan usaha di Ambarawa.

Pada tahun yang sama, mereka juga mengembangkan usaha Roti Muncul. Racikan herbal buatan Rakhmat kemudian dikenal masyarakat dan menjadi cikal bakal Tolak Angin.

Pasangan tersebut memperluas usaha jamu hingga Yogyakarta pada 1935. Beberapa tahun kemudian, sekitar 1940, ramuan Tolak Angin mulai dipasarkan dalam bentuk jamu rebusan.

Perjalanan bisnis berlanjut setelah berdirinya perusahaan Sido Muncul di Semarang pada 1951. Nama Sido Muncul memiliki makna "impian yang terwujud".

Dari perusahaan inilah Tolak Angin berkembang menjadi salah satu produk herbal yang sangat dikenal masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Mengenal Putri Bangsawan Gowa Farah Puteri Nahlia, Anak Fadil Imran yang Kini Duduk di DPR

9. Bir Bintang, Memiliki Jejak Sejak 1931

Bir Bintang memiliki sejarah yang berkaitan dengan industri minuman pada masa Hindia Belanda.

Pada 1931, sebuah perusahaan bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen berdiri di Surabaya. Perusahaan tersebut kemudian berkembang dan melahirkan perjalanan panjang yang akhirnya membuat nama Bir Bintang dikenal luas.

Seiring perjalanan waktu, perusahaan dan produknya mengalami berbagai perkembangan. Bir Bintang kemudian menjadi salah satu merek minuman yang memiliki tingkat pengenalan tinggi di Indonesia.

Perusahaan juga melakukan pengembangan produk untuk menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen, termasuk menghadirkan varian tanpa alkohol.

10. Blue Band, Hadir di Indonesia Sejak 1934

Blue Band menjadi merek terakhir dalam daftar ini. Produk margarin tersebut mulai diperkenalkan di Hindia Belanda pada 1934.

Pada masa itu, kebutuhan masyarakat Eropa terhadap margarin menjadi salah satu peluang pasar. Blue Band kemudian masuk dan menggunakan identitas pita biru yang menjadi ciri khas mereknya.

Perkembangan industri berlanjut dengan keberadaan N.V. van den Berghs Fabrieken di Batavia pada 1936. Perusahaan tersebut memproduksi sejumlah produk pangan, termasuk minyak goreng dan mentega.

Setahun kemudian, Sidney van den Bergh datang ke Batavia dan melihat potensi besar pasar di Hindia Belanda.

Perang sempat memengaruhi kegiatan bisnis. Namun, setelah kondisi kembali stabil, Blue Band terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat.

Promosi melalui media massa turut memperkuat citra produk. Blue Band tidak hanya dipasarkan sebagai margarin, tetapi juga dikaitkan dengan kebutuhan keluarga dan asupan gizi, termasuk melalui informasi mengenai vitamin A dan D.

 

Editor : Uways Alqadrie
kopi kapal api 10 merk legendaris Indonesia blue band kecap Bango Dji Sam Soe