KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Kinerja perdagangan luar negeri kembali masuk zona defisit pada Juni 2026. Setelah mencatat surplus 171,89 juta dolar pada Mei, neraca perdagangan Balikpapan berbalik menjadi defisit 511,08 juta dolar pada Juni.
Perubahan tersebut terjadi menurut Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama ketika nilai impor melonjak jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Pada Juni, impor Balikpapan mencapai 1,179,15 juta dolar atau sekitar 1,18 miliar dolar. Sementara ekspor hanya mencapai 668,07 juta dolar.
Artinya, nilai impor lebih besar sekitar 511,08 juta dolar dibandingkan ekspor. Defisit tersebut terutama berasal dari sektor migas. Sementara sektor nonmigas masih mampu mempertahankan surplus.
“Pada Juni 2026, neraca perdagangan Balikpapan mengalami defisit sebesar 511,08 juta dolar. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh defisit pada sektor migas, sedangkan sektor nonmigas masih mencatat surplus,” ucap Marinda.
Baca Juga: Penumpang Kapal di Balikpapan Melonjak 116 Persen, Pelabuhan Semayang Kembali Ramai
Dimana sektor migas mengalami defisit sebesar 1,016,87 juta dolar. Angka tersebut merupakan selisih antara ekspor migas sebesar 105,90 juta dolar dan impor migas yang mencapai 1,122,77 juta dolar.
Di sisi lain, sektor nonmigas justru mencatat surplus sebesar 505,79 juta dolar. Nilai tersebut berasal dari ekspor nonmigas sebesar 562,17 juta dolar yang lebih tinggi dibandingkan impor nonmigas sebesar 56,38 juta dolar.
Kontras antara dua sektor tersebut menjadi gambaran utama perdagangan Balikpapan pada Juni. Sektor nonmigas sebenarnya memberikan kontribusi positif terhadap neraca perdagangan. Namun surplus yang dihasilkan belum mampu menutup defisit besar pada sektor migas.
Kondisi ini semakin terlihat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pada Mei 2026, Balikpapan masih mencatat surplus perdagangan sebesar 171,89 juta dolar. Dengan demikian, dalam satu bulan terjadi perubahan posisi neraca sebesar 682,97 juta dolar, dari surplus menjadi defisit.
Baca Juga: Produksi Terung Kaltim Anjlok 12 Persen, Kukar Masih Jadi Lumbung Utama
Di sisi ekspor, Balikpapan sebenarnya masih mengalami pertumbuhan. Nilai ekspor Juni mencapai 668,07 juta dolar, meningkat 48,28 persen dibandingkan Mei yang sebesar 450,54 juta dolar.
Namun pertumbuhan ekspor tersebut tidak mampu mengimbangi lonjakan impor yang mencapai 323,17 persen secara bulanan. Marinda menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika perdagangan Balikpapan pada Juni sangat dipengaruhi oleh transaksi sektor migas.
“Pertumbuhan ekspor tetap terjadi pada Juni, tetapi peningkatan impor migas jauh lebih besar. Hal inilah yang kemudian menyebabkan neraca perdagangan secara keseluruhan mengalami defisit,” kata Marinda.
Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa surplus perdagangan nonmigas masih menjadi penyangga bagi neraca perdagangan Balikpapan. Tanpa surplus nonmigas sebesar 505,79 juta dolar, tekanan terhadap neraca perdagangan akan lebih besar. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo