KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Nangka dan cempedak menjadi salah satu komoditas buah yang mengalami penurunan paling tajam di Kalimantan Timur. Dalam setahun, produksinya terpangkas lebih dari separuh. Bahkan, capaian 2025 menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat produksi nangka/cempedak pada 2025 hanya mencapai 12.630,99 ton. Angka tersebut merosot 43,90 persen atau setara 12,58 ribu ton dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 25.213,92 ton.
Dalam lima tahun terakhir, produksi komoditas ini memang bergerak tidak stabil. Pada 2021, produksi mencapai 32.819 ton. Setahun kemudian turun menjadi 8.364,40 ton, lalu kembali meningkat menjadi 11.834,36 ton pada 2023.
Kenaikan cukup besar terjadi pada 2024 ketika produksinya menembus 25.213,92 ton. Namun, tren tersebut berbalik tajam pada 2025 dengan produksi hanya 12.630,99 ton.
Baca Juga: Produksi Nanas Kaltim Tembus Rekor Lima Tahun, Kukar Sumbang 84 Persen Produksi
“Pada triwulan III-2025, penurunan produksi terekstrem sejak tahun 2023, yaitu sebesar 2,08 ribu ton dari 46,66 ribu pohon nangka/cempedak yang menghasilkan,” ujar Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai.
Produksi kemudian kembali membaik pada triwulan IV. Angkanya mencapai 4,42 ribu ton, sekaligus menjadi produksi triwulanan tertinggi sepanjang 2025.
“Kabupaten/kota dengan produksi nangka/cempedak terbesar di Kaltim adalah Balikpapan dan Kutai Kartanegara,” kata Mas’ud. Balikpapan menghasilkan 4.829,73 ton atau 38,24 persen dari total produksi provinsi. Produksi tersebut berasal dari 11,76 ribu tanaman yang menghasilkan.
Sementara itu, Kukar menyumbang 3.172,56 ton atau 25,12 persen dengan 29,5 ribu rumpun tanaman menghasilkan. Jika digabung, kedua daerah tersebut menyumbang sekitar 63 persen produksi nangka/cempedak Kaltim.
Baca Juga: Tak Bisa Turun di Porprov, Yuwanita Kini Menjajal Arena Indoor
Produksi juga berasal dari Samarinda 2.374,29 ton, Kutai Timur 751,83 ton, Kutai Barat 470,70 ton, Penajam Paser Utara 388,51 ton, Berau 292,36 ton, Paser 278,88 ton, Bontang 70,25 ton, dan Mahakam Ulu 1,89 ton.
Penurunan produksi 2025 membuat nangka/cempedak kembali berada di bawah capaian 2023. Dibandingkan produksi tertinggi dalam lima tahun terakhir pada 2024, produksi tahun ini bahkan menyusut hampir separuh. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo