Pay Later di Kaltim Makin Diminati, Pembiayaan Tembus Rp13,40 Triliun

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 19:13 WIB
BAYAR NANTI: Pembiayaan BNPL atau bayar nanti melonjak 57,02 persen yoy menjadi Rp13,40 triliun.
BAYAR NANTI: Pembiayaan BNPL atau bayar nanti melonjak 57,02 persen yoy menjadi Rp13,40 triliun.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Aktivitas pembiayaan masyarakat masih menunjukkan pertumbuhan pada pertengahan 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan (PP) mencapai Rp511,26 triliun pada Juni 2026, tumbuh 1,88 persen secara tahunan (yoy).

Dijelaskan Kepala OJK Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Misran Pasaribu, pertumbuhan tersebut terutama didukung peningkatan pembiayaan modal kerja yang tumbuh 6,36 persen yoy.

Di tengah pertumbuhan tersebut, profil risiko perusahaan pembiayaan tetap terjaga. Rasio non-performing financing (NPF) gross tercatat 3,01 persen, membaik dibandingkan Mei 2026 sebesar 3,06 persen. Sementara NPF net turun dari 0,85 persen menjadi 0,81 persen.

“Gearing ratio PP tercatat 2,14 kali (Mei 2026: 2,14 kali) dan berada di bawah batas maksimum 10 kali,” demikian disampaikan Misran berdasarkan perkembangan sektor Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga (PVML) Juni 2026.

Baca Juga: Menenun Harmoni dan Iman di "Tanaa Purai Ngeriman"

Pertumbuhan lebih tinggi terlihat pada pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) yang disalurkan perusahaan pembiayaan. Berdasarkan informasi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), pembiayaan BNPL melonjak 57,02 persen yoy menjadi Rp13,40 triliun.

Meski tumbuh pesat, kualitas pembiayaan BNPL justru membaik. NPF gross turun menjadi 3,09 persen dari 3,44 persen pada Mei 2026.

Sementara itu, outstanding pembiayaan industri Pinjaman Daring (Pindar) mencapai Rp105,14 triliun. Angkanya tumbuh 25,88 persen yoy, meningkat tipis dibandingkan pertumbuhan Mei sebesar 25,60 persen.

Baca Juga: Infrastruktur 2025 Mulai Diresmikan Akhir Agustus, Andi Harun Cek Sejumlah Proyek

Tingkat risiko kredit macet agregat Pindar yang tercermin melalui TWP90 juga membaik. Rasio tersebut turun dari 4,42 persen pada Mei menjadi 4,26 persen pada Juni 2026.

Pada industri pergadaian, penyaluran pembiayaan mencapai Rp162,26 triliun atau tumbuh 54,47 persen yoy. Produk gadai masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp136,88 triliun atau 84,36 persen dari total pembiayaan.

Berbeda dengan sektor lainnya, pembiayaan modal ventura mengalami kontraksi 0,48 persen yoy pada Juni 2026 dengan nilai pembiayaan Rp16,28 triliun. Pada bulan sebelumnya, industri tersebut masih mencatat pertumbuhan 0,09 persen yoy. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
BNPL 2026 pembiayaan BNPL bayar nanti pembiayaan perusahaan pay later