KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kaltim berambisi menjadi penyangga pangan Ibu Kota Nusantara (IKN), namun ambisi tersebut tak sejalan dengan kenyataan, lahan sawah dan ladang justru terus menghadapi tekanan alih fungsi.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Faperta Unmul) Prof. Bernatal Saragih menilai persoalan tersebut tak cukup dijawab dengan membuka sawah baru. Perlindungan terhadap lahan yang sudah ada harus menjadi prioritas.
Bernatal menyoroti belum maksimalnya eksekusi regulasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kaltim. Menurutnya, lemahnya pelaksanaan dan pengawasan membuat lahan pertanian masih berpotensi bergeser menjadi kawasan dengan komoditas lain, termasuk perkebunan sawit.
Baca Juga: Pay Later di Kaltim Makin Diminati, Pembiayaan Tembus Rp13,40 Triliun
“Yang problemnya di Kaltim ini kritikan saya kepada pemerintah, mengeksekusi LP2B-nya itu tidak maksimum sehingga terjadi pergeseran. Di mana-mana, di kabupaten kota terjadi pergeseran. Luas lahan kita, luas baku sawah kita menurun,” kata Bernatal saat ditemui dalam Seminar Ketahanan Pangan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Faperta Unmul bersama Pemuda Inspirasi Nusantara, Pekan lalu.
Ia mengatakan, pemerintah memang tengah mendorong pembukaan lahan sawah baru. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup apabila sawah yang telah tersedia tidak mampu dipertahankan.
Bernatal menyebut sebelumnya terdapat upaya penyiapan sekitar 11 ribu hektare lahan untuk mendukung pengembangan sawah di Kaltim. Pembukaan lahan baru juga kembali didorong pemerintah.
Baca Juga: Sudah Bayar Ratusan Miliar Masih Dituduh Menipu (Tidak Ada Mens Rea di Sengketa DPK-Petrotrans)
“Memang digiatkan lagi dulu kita menyiapkan namanya sekitar 11.000 ha ya untuk Kaltim dan sekarang diusahakan juga pembukaan-pembukaan baru untuk sawah-sawah baru di Kaltim,” ujarnya.
Persoalannya, kata dia, pembangunan sawah baru harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap lahan pertanian yang sudah ada.
“Yang menjadi penting adalah menjaga itu menjadi penting. Jadi, regulasi yang di Kaltim harus benar-benar dilaksanakan dan dieksekusi dan benar-benar diawasi sih agar tidak terjadi lagi pergeseran pemindahan sawah menjadi komoditi lain. Saya pikir itu yang paling utama dalam saat ini,” tegasnya.
Menurut Bernatal, persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika Kaltim diproyeksikan sebagai wilayah penyangga IKN. Kebutuhan pangan diperkirakan ikut meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di kawasan IKN.
Di sisi lain, Kaltim masih menghadapi ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah. Beras menjadi salah satu komoditas yang masih harus didatangkan untuk memenuhi kebutuhan daerah.
Kondisi itu menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana pemerintah mempertahankan basis produksi yang dimiliki.
Akademisi Didorong Tak Berhenti di Kampus. Bernatal juga menilai penguatan ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan lebih besar dari kalangan akademisi. Perguruan tinggi, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan kajian, tetapi perlu hadir memberikan dukungan langsung kepada petani.
Baca Juga: Sudah Bayar Ratusan Miliar Masih Dituduh Menipu (Tidak Ada Mens Rea di Sengketa DPK-Petrotrans)
Dukungan itu dapat berupa riset bersama, penerapan teknologi, hingga membantu membuka akses pasar. Kolaborasi antara akademisi, petani, pemuda dan pelaku usaha dinilai penting agar sektor pertanian tidak berhenti pada persoalan produksi.
“Karena membangun riset bersama gitu ya, memberikan supporting untuk petani, misalnya insert teknologi dan segala macam saya pikir sangat-sangat penting,” katanya.
Ia menilai akademisi juga memiliki ruang untuk membangun relasi dengan kalangan praktisi dan dunia usaha. Dengan begitu, petani tidak hanya diarahkan menghasilkan komoditas, tetapi juga memperoleh akses terhadap pasar dan pengembangan nilai tambah.
Peran tersebut, menurut Bernatal, perlu dibarengi dengan masuknya generasi muda ke sektor pertanian. Ia berharap pemuda tani dapat menjadi pengubah wajah pertanian Kaltim, termasuk dengan memanfaatkan teknologi dan model bisnis baru.
Baca Juga: Peran Haji Isam dalam Penanganan Karhutla Diungkap Gubernur Kalsel
“Saya harapan saya kan pemuda petani kita menjadi game changer ya untuk ke depan sehingga nanti jangan berpikir lagi petani itu seolah-olah menjadi eh tadi kotor, menjadi miskin dan segala macam tidak. Tidak lagi zamannya seperti itu,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo