KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pelaku usaha batu bara mulai melihat sektor usaha lain untuk dikembangkan di tengah tekanan industri emas hitam. Beberapa di antaranya tertarik mengalihkan sebagian aktivitas bisnisnya ke sektor pangan.
Peralihan bisnis ini dinilai memberi peluang untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus membangun rantai pasok pangan di daerah. Terlebih, kebutuhan pangan diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Wakil Ketua Umum Koordinator Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Bidang Pangan, Lani Tanujaya mengatakan, pihaknya mengambil posisi sebagai penghubung antara dunia usaha, pemerintah dan petani. Karena itu, ketika ada pengusaha dari sektor pertambangan yang ingin masuk ke pangan, Kadin siap memfasilitasi.
“Kadin ini sebetulnya bukan pengusaha. Kadin ini fasilitator antara pengusaha dengan petani maupun pengusaha dengan pengusaha, pemerintah dengan pengusaha yang ada di Kaltim,” kata Lani kepada Kaltim Post usai Seminar Ketahanan Pangan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) bersama Pemuda Inspirasi Nusantara, pekan lalu.
Baca Juga: Harga Semen di Sumut Masih Tinggi, KPPU Bongkar Rantai Pasok dari Pabrik hingga Toko
Menurut dia, langkah diversifikasi tersebut patut didukung karena membuka sumber pertumbuhan baru di luar sektor ekstraktif. “Jadi, apabila ada pengusaha-pengusaha batu bara yang ingin beralih ke pangan, kami sangat mendukung,” ujarnya.
Bagi Kadin, masuknya modal dan pengalaman pelaku usaha pertambangan ke sektor pangan dapat memperkuat ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Terutama jika investasi tersebut diarahkan bukan hanya pada produksi, tetapi juga pembangunan industri yang mampu menyerap hasil panen petani.
Salah satu rencana yang tengah didorong berada di Samboja, Kutai Kartanegara. Lani menyebut terdapat rencana pembangunan pabrik yang dapat menjadi salah satu sentra bagi produksi jagung Kaltim. Kehadiran industri tersebut dinilai penting karena persoalan petani tidak selalu berhenti pada kemampuan menghasilkan komoditas.
Pasca panen, petani kerap menghadapi persoalan, salah satunya menentukan pasar. “Jadi, sudah ada tempat pengolahnya. Petani sudah enggak pusing lagi mau jual ke mana,” jelasnya.
Baca Juga: 17.458 Warga Kutai Barat Dapat Bantuan Beras, Masing-Masing Terima 30 Kilogram
Lani menilai diversifikasi usaha dari batu bara ke pangan tidak cukup hanya dimaknai sebagai perpindahan investasi dari satu sektor ke sektor lain. Jika dibangun dengan ekosistem yang tepat, investasi tersebut dapat menciptakan pasar baru bagi petani lokal.
Kadin, kata dia, akan berperan mempertemukan pelaku usaha dengan petani serta pemerintah. Dengan semakin banyak industri yang menyerap hasil pertanian, petani memiliki lebih banyak pilihan pasar. “Jadi, kalau ada industri-industri yang bisa menampung hasil panen petani, itu kami sangat mendukung,” katanya.
Selain rencana pabrik di Samboja, Lani menyebut sudah terdapat sejumlah saluran penyerapan jagung di Kaltim. Sebagian produksi juga nantinya dapat disalurkan kepada Bulog. Kondisi tersebut memberikan pilihan kepada petani dalam menentukan pembeli.
Namun, kembali lagi, persoalan jarak dan ongkos angkut tetap jadi tantangan. Karena itu, dalam rencana industri yang sedang disiapkan tersebut, pemasok dari lokasi yang berjarak lebih dari 50 kilometer disebut akan mendapat subsidi biaya angkut. Skema itu diharapkan membuat pasar industri tetap bisa dijangkau petani dari sentra produksi yang lebih jauh.
Tak hanya petani, rantai pengumpul juga akan dilibatkan. Lani mengatakan terdapat skema bagi pengumpul untuk memperoleh bagian dari perusahaan. “Nanti untuk pengepul, harganya tetap. Mereka juga akan mendapatkan dividen dari perusahaan,” ujarnya.
Baca Juga: Balap Liar di Balikpapan Bikin Warga Resah, 33 Pemuda dan 26 Motor Diamankan Polisi
Bagi Kadin, masuknya pengusaha batu bara ke sektor pangan dapat menjadi salah satu pintu diversifikasi ekonomi Kaltim. Sektor yang selama ini bertumpu kuat pada komoditas ekstraktif mulai diarahkan untuk ikut membangun sektor pangan yang memiliki pasar jangka panjang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo