Kadin Balikpapan Dorong CFD Jadi Panggung UMKM dan Ekonomi Kreatif, Bukan Sekadar Tempat Jualan

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:11 WIB
CFD di Balikpapan.
CFD di Balikpapan.

KALTIMPOST.ID-Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan Noval Asfihan menilai, pelaku UMKM yang berjualan di ruang publik perlu didorong untuk mulai membangun identitas usaha.

Kemasan yang menarik, pencatatan keuangan, pembayaran digital, legalitas usaha dan pemasaran melalui media sosial dapat menjadi bagian dari proses peningkatan kapasitas.

“Kalau produknya bagus tetapi tidak punya branding, tidak punya kemasan yang baik atau tidak bisa masuk ke pemasaran digital, pertumbuhannya akan terbatas. Karena itu, CFD bisa menjadi pintu awal untuk mempertemukan produk dengan konsumen, tetapi pembinaannya harus berjalan terus,” jelasnya.

Kadin Balikpapan juga melihat peluang besar dari pengembangan ekonomi kreatif. Menurut Noval, aktivitas kreatif dapat membuat ruang publik menjadi lebih hidup sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi.

Baca Juga: Koalisi Reset Kehutanan Tolak Revisi UU Kehutanan, Desak Perombakan Total Tata Kelola Hutan

CFD tidak harus dipenuhi aktivitas jual beli semata. Pertunjukan seni, musik, pameran produk kreatif, komunitas, kegiatan anak muda hingga promosi karya lokal bisa menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Dengan demikian, masyarakat mendapatkan pengalaman yang lebih beragam, sementara pelaku kreatif memperoleh panggung untuk memperkenalkan karya.

“Ekonomi kreatif itu memerlukan ruang untuk tampil. Ketika ada ruang publik yang ramai, di situ sebenarnya ada panggung yang sangat strategis. Seniman, komunitas dan pelaku kreatif bisa memperkenalkan karya mereka, dan pada saat yang sama kegiatan tersebut ikut menarik masyarakat datang,” kata Noval.

Menurutnya, semakin lama masyarakat berada di sebuah ruang publik, semakin besar pula peluang terjadinya aktivitas ekonomi.

Masyarakat yang datang untuk berolahraga dapat kemudian membeli makanan, minuman atau produk lokal, menikmati pertunjukan, maupun membawa pulang produk kreatif yang mereka temukan.

Perputaran tersebut menciptakan efek ekonomi berantai. Transaksi yang terjadi di tingkat UMKM dapat kembali digunakan untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, meningkatkan produksi dan memperluas usaha.

Dalam konteks tersebut, Noval menilai pemberdayaan perempuan juga harus menjadi bagian penting dari pengembangan ekonomi lokal.

Baca Juga: 960 Bidang Tanah Aset Pemkab PPU Belum Bersertifikat, BKAD Siapkan Strategi Percepatan

Banyak perempuan memiliki usaha rumahan dan keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam akses pasar.

“Perempuan memiliki potensi yang besar dalam ekonomi kreatif dan UMKM. Banyak produk yang dibuat dari rumah, tetapi belum memiliki akses pasar yang cukup. Ruang publik seperti CFD bisa menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada konsumen secara langsung,” tuturnya.

Menurutnya, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan keterampilan. Setelah memiliki kemampuan memproduksi barang, mereka harus mendapatkan akses terhadap pasar, pembiayaan, pendampingan dan jejaring usaha.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, Kadin, organisasi perempuan pengusaha, komunitas dan pelaku usaha menjadi penting. Masing-masing pihak dapat mengambil peran sesuai kapasitas, mulai dari pembinaan hingga membuka akses pasar.

Noval menekankan pentingnya menjadikan CFD sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi lokal, bukan kegiatan yang berdiri sendiri.

Pemerintah dapat menghubungkan kegiatan tersebut dengan berbagai program UMKM dan ekonomi kreatif yang sudah berjalan.

“Kalau kita bicara ekonomi lokal, maka harus ada kesinambungan. CFD bisa menjadi salah satu titik temu. UMKM mendapatkan pasar, komunitas mendapatkan ruang, masyarakat mendapatkan fasilitas publik, dan pemerintah mendapatkan dampak ekonomi dari aktivitas yang terjadi,” ujarnya.

Ia berharap pengelolaan CFD ke depan dapat semakin profesional, termasuk dalam penataan pedagang, kebersihan, keamanan, fasilitas transaksi digital serta promosi.

Penataan yang baik akan membuat masyarakat nyaman sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman konsumen.

Baca Juga: Klorida Air Baku Samarinda Tembus 250 PPM, Pemkot Siapkan Skenario Darurat Air Bersih

Bagi Kadin, kata dia, keberhasilan ruang publik sebagai penggerak ekonomi juga tidak semata-mata diukur dari jumlah pedagang yang berjualan. Indikator lainnya adalah munculnya pelanggan baru, meningkatnya omzet, bertambahnya jaringan usaha, semakin dikenal produk lokal serta lahirnya pelaku usaha baru.

Dengan pendekatan tersebut, CFD dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi Balikpapan dari tingkat paling bawah.

Ruang publik yang awalnya digunakan untuk aktivitas olahraga dapat berkembang menjadi titik pertemuan antara masyarakat, UMKM, ekonomi kreatif dan komunitas.

“Jangan sampai ruang publik hanya kita lihat sebagai tempat berkumpul. Ruang publik juga bisa menjadi ruang produktif. Kalau dikelola bersama dan konsisten, saya kira CFD bisa menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal Balikpapan,” pungkas Noval. (rd)

Editor : Romdani.
Car Free Day Balikpapan letjen lucky avianto Kadin Balikpapan ibu kota nusantara Kutai Barat