KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Ada tradisi yang selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup meski zaman berubah. Salah satunya Mid-Autumn Festival, perayaan yang lekat dengan cahaya lentera, bulan purnama dan satu kata yang menjadi inti perayaannya: reuni.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, momentum berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat justru menjadi sesuatu yang semakin berharga. Semangat itulah yang diangkat Platinum Hotel & Convention Hall Balikpapan melalui koleksi mooncake edisi 2026 bertajuk “Moonlight Reunion”.
Marketing Communication Manager Platinum Hotel & Convention Hall Balikpapan Ziw Urim Togatorop mengatakan, konsep tersebut tidak sekadar mengambil unsur visual dari budaya Tiongkok, tetapi juga mencoba menghadirkan kembali makna kebersamaan yang menjadi bagian penting dari perayaan Mid-Autumn.
Baca Juga: Pencemaran Udara Meningkat, Disdikbud Mahulu Liburkan Sekolah dan Terapkan Belajar dari Rumah
“Moonlight Reunion kami hadirkan sebagai bentuk perayaan kebersamaan. Mooncake bukan hanya makanan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi berbagi dan berkumpul bersama orang-orang yang berarti,” kata Zizi.
Nuansa budaya itu terasa sejak kemasan dibuka. Koleksi tersebut menggunakan signature packaging dengan tema lentera dan arsitektur klasik Tiongkok. Ilustrasi bulan purnama turut menjadi elemen utama yang membawa pesan tentang reuni dan kehangatan keluarga.
Lentera sendiri menjadi salah satu simbol yang kuat dalam perayaan Mid-Autumn. Cahaya yang dipancarkan membawa suasana hangat sekaligus menjadi bagian dari kemeriahan festival. Sementara bulan purnama menjadi simbol yang menghubungkan orang-orang yang berada di tempat berbeda untuk tetap merayakan momentum yang sama.
Platinum Hotel & Convention Hall Balikpapan kemudian menerjemahkan unsur tersebut ke dalam sebuah produk kuliner yang dapat dinikmati sekaligus diberikan sebagai hadiah. "Dari sisi kuliner, koleksi Moonlight Reunion menghadirkan lima varian mooncake. Pilihannya adalah Black Sesame, Pandan, White Lotus, Red Bean, dan Lotus Durian," sebutnya.
Baca Juga: Bankaltimtara Raih KEJAR Award 2026, Jadi yang Terbaik di Kalimantan
Kelima rasa tersebut memberikan karakter yang berbeda. Black Sesame dan White Lotus membawa nuansa klasik yang kuat dalam sajian mooncake. Sementara Pandan memberikan sentuhan rasa yang lebih familiar bagi selera lokal.
Red Bean menjadi pilihan dengan karakter manis khas kacang merah, sedangkan Lotus Durian menghadirkan perpaduan yang lebih berani dengan aroma dan rasa durian yang khas.
Variasi tersebut membuat mooncake tidak hanya hadir sebagai makanan tradisional yang dinikmati pada momentum tertentu. Ia juga menjadi medium untuk mempertemukan cita rasa tradisional dengan selera konsumen yang lebih beragam.
“Kami ingin memberikan pilihan rasa yang cukup beragam, sehingga masyarakat bisa memilih sesuai selera. Ada rasa yang klasik, ada pula pilihan yang lebih dekat dengan karakter rasa yang sudah akrab di Indonesia,” ujarnya.
Selain rasa, aspek penyajian juga menjadi bagian penting. Setiap koleksi tersedia dalam pilihan dua atau empat mooncake dan dilengkapi kartu ucapan eksklusif. Dengan demikian, mooncake dapat dinikmati bersama keluarga di rumah, dibawa ketika bersilaturahmi, maupun diberikan kepada sahabat dan kolega.
Namun, perempuan yang karib disapa Zizi ini menambahkan, nilai yang ditawarkan Platinum Hotel & Convention Hall Balikpapan bukan semata-mata berada pada isi kotaknya. Ada cerita budaya yang ikut dibawa melalui desain, rasa, dan konsep pemberian hadiah.
Baca Juga: Kodam VI/Mulawarman Peringati Maulid Nabi 2026, Pangdam Ajak Prajurit Teladani Akhlak Rasulullah
Di situlah “Moonlight Reunion” mencoba mengambil posisi. Mooncake tidak hanya menjadi kudapan musiman, melainkan bagian dari ritual kecil untuk mengatakan bahwa seseorang masih diingat, masih dianggap penting dan layak diajak berbagi kebahagiaan.
"Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi semacam ini menjadi menarik. Sebab, bentuk perayaannya dapat berubah, tetapi kebutuhan manusia untuk berkumpul dan berbagi tetap sama," tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo