Taman Nasional Kutai Tutup Mendadak Berbulan-bulan, Travel Agent Terancam Rugi

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:28 WIB
BIKIN RESAH: Penutupan Taman Nasional Kutai telah memunculkan keluhan dari wisatawan yang sebelumnya berencana datang.
BIKIN RESAH: Penutupan Taman Nasional Kutai telah memunculkan keluhan dari wisatawan yang sebelumnya berencana datang.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Ketidakpastian akses ke destinasi wisata menjadi persoalan serius bagi industri perjalanan di Kaltim. Salah satu yang disoroti pelaku usaha adalah penutupan Taman Nasional Kutai yang disebut telah berlangsung sejak Januari hingga menjelang akhir Agustus 2026.

Persoalan tersebut bukan sekadar masalah akses wisata, tetapi Owner Trans Borneo Adventure Tours & Travel Joko Purwanto mengatakan, ini berkaitan langsung dengan kepastian usaha biro perjalanan yang menjual paket wisata Kaltim kepada pasar mancanegara.

“Jadi, namanya tempat wisata yang sudah dipublikasikan oleh kawan-kawan biro perjalanan tidak boleh berlaku sepihak menutup semaunya sendiri. Kalau mau menutup, itu harusnya diberitahukan minimal enam bulan sebelumnya,” keluh Joko, Minggu (30/8).

Menurutnya, wisatawan mancanegara memiliki pola perencanaan perjalanan yang berbeda dengan wisatawan domestik. Perjalanan internasional umumnya telah disiapkan jauh hari, termasuk tiket pesawat, hotel, transportasi, pemandu, hingga destinasi yang akan dikunjungi.

Baca Juga: Bukan Cuma Buat Belanja, Mal di Balikpapan Disulap Jadi Sentra Ekraf Lokal

Karena itu, perubahan akses destinasi secara mendadak dapat menimbulkan persoalan berantai bagi biro perjalanan. Ketika destinasi yang telah dijual ternyata tidak dapat dikunjungi, pelaku usaha harus memberikan penjelasan kepada wisatawan sekaligus mencari alternatif perjalanan.

“Wisatawan mancanegara itu kalau mau melakukan perjalanan bisa enam bulan sebelumnya sudah final,” kata Joko.

Ia mengaku penutupan Taman Nasional Kutai telah memunculkan keluhan dari wisatawan yang sebelumnya berencana datang. Persoalannya semakin rumit karena informasi mengenai pembukaan kembali destinasi dinilai belum memberikan kepastian yang jelas.

“Ditutup tanpa ada pemberitahuan, pas kita tanya baru dikasih surat pemberitahuan, jadi banyak yang komplain ke kita. Akhirnya bumerang buat kita sendiri,” ujarnya.

Baca Juga: Jangan Cuma Jualan Online! Pelaku Ekraf Balikpapan Disuruh 'Invasi' ke Mal dan CFD

Menurut Joko, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi citra destinasi. Biro perjalanan yang telah menjual paket wisata kepada wisatawan asing dapat dianggap tidak mampu memenuhi layanan apabila destinasi yang dijanjikan ternyata tidak dapat diakses. “Dikira kita menjual kebohongan. Tidak begitu,” katanya.

Ia mengatakan, hingga saat ini belum terdapat kejelasan mengenai kapan destinasi tersebut dapat kembali menerima wisatawan. Penutupan disebut berlangsung sejak Januari dan informasi yang diterima pelaku perjalanan masih bersifat menunggu pemberitahuan berikutnya. “Januari sampai sekarang,” kata Joko ketika ditanya mengenai durasi penutupan.

Bagi industri perjalanan, ketidakpastian tersebut menjadi persoalan besar karena promosi destinasi membutuhkan kepastian produk. Biro perjalanan tidak mungkin secara optimal menjual suatu destinasi jika aksesnya dapat berubah sewaktu-waktu tanpa informasi yang cukup.

Joko juga menyoroti alasan penutupan yang menurutnya berkaitan dengan kebutuhan recovery kawasan. Menurutnya, apabila memang terdapat periode tertentu untuk pemulihan kawasan, mekanisme pemberitahuannya harus disampaikan jauh sebelumnya agar industri dapat menyesuaikan paket perjalanan.

“Kalau memang ada recovery, hanya sekitar seminggu ditutup lalu buka kembali tidak ada masalah. Tapi pemberitahuannya itu satu tahun sebelumnya sudah diberitahu,” jelasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Biro Perjalanan Kaltim Penutupan Taman Nasional Kutai 2026 Dampak penutupan TN Kutai wisata kaltim taman nasional kutai