KALTIMPOST.ID-Ada kekayaan yang selama ini dimiliki Kaltim, tetapi peluang ekonominya masih bisa dikembangkan jauh lebih luas.
Batik dan tenun lokal bukan sekadar bahan untuk pakaian. Di tangan pelaku UMKM yang inovatif, kain tradisional dapat berubah menjadi berbagai produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Ida Syachruni, pemilik brand Batik Tenun Vi mengatakan, pengayaan produk menjadi salah satu strategi penting bagi pelaku UMKM fashion menghadapi kondisi pasar yang semakin kompetitif.
Lebih lanjut, Ida menilai pelaku usaha harus mulai keluar dari pola lama yang hanya menjual satu jenis produk. “Kalau kita punya bahan dan kekayaan budaya yang sama, jangan produk akhirnya juga selalu sama. Kita harus berani mengembangkan produk turunannya,” ucap Ida.
Kain batik dan tenun memiliki fleksibilitas tinggi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk. Selain busana, kain dapat diolah menjadi aksesori, tas, selendang, produk rumah tangga, suvenir, hingga berbagai produk fashion yang lebih modern.
Baca Juga: Sawah Mengering, Kaltim Belum Mampu Swasembada Beras, Defisit Mencapai 189 Ribu Ton
Diversifikasi produk menjadi penting karena tidak semua konsumen memiliki kebutuhan dan kemampuan membeli yang sama.
Ada konsumen yang mencari pakaian formal, ada yang menginginkan busana kasual, sementara konsumen lain mungkin hanya membutuhkan produk kecil sebagai suvenir.
Dengan menyediakan berbagai pilihan, UMKM dapat memperluas segmen pasar tanpa harus meninggalkan identitas utama brand.
Ida mengatakan inovasi juga bisa dilakukan melalui desain. Motif tradisional tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk konvensional.
Perancang bisa mengolah motif menjadi desain yang lebih ringan dan modern sehingga dapat diterima konsumen muda.
“Bagaimana budaya kita tetap ada, tetapi tampilannya bisa mengikuti perkembangan zaman. Itu salah satu tantangan kita sebagai pelaku fashion,” katanya. (rd)
Editor : Romdani.