Daya Beli Melemah, UMKM Batik dan Tenun Kaltim Diminta Tak Takut Bikin Produk Lebih Terjangkau

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:26 WIB
Batik tenun
Batik tenun

KALTIMPOST.ID-Ida Syachruni, pemilik brand Batik Tenun Vi mengaku, melakukan beberapa pendekatan dinilai penting agar produk lokal tidak hanya dibeli karena kewajiban menggunakan produk daerah, tetapi karena konsumen memang menyukai desain dan kualitasnya.

Dengan demikian, pasar produk batik dan tenun dapat berkembang secara organik. Pengayaan produk juga bisa menjadi strategi menghadapi kondisi ekonomi.

Ketika konsumen menahan pembelian produk dengan harga tinggi, UMKM masih memiliki pilihan untuk menawarkan produk dengan ukuran dan harga yang lebih beragam.

“Artinya, inovasi produk tidak hanya berbicara mengenai estetika, tetapi juga strategi ekonomi,” ucap Ida.

Pelaku usaha bisa membuat produk entry level untuk menjangkau konsumen baru sekaligus mempertahankan produk premium bagi segmen yang menginginkan kualitas dan desain eksklusif.

Baca Juga: Sawah Mengering, Kaltim Belum Mampu Swasembada Beras, Defisit Mencapai 189 Ribu Ton

Strategi tersebut memungkinkan satu brand memiliki beberapa lapisan pasar. Ida menilai pola pikir seperti itu perlu diperkuat oleh pelaku UMKM Kaltim.

“Jangan hanya berpikir bagaimana menjual produk yang sekarang. Kita harus berpikir produk apa lagi yang bisa dibuat dari apa yang sudah kita punya,” ujarnya.

Kekuatan lain yang perlu dikembangkan adalah cerita produk. Setiap motif, material, dan proses produksi dapat menjadi bagian dari nilai jual.

Cerita mengenai budaya Kaltim dapat dikemas melalui label, kemasan, konten digital maupun komunikasi langsung dengan konsumen.

Dengan cara itu, produk lokal memiliki diferensiasi yang tidak mudah ditiru. Di tengah persaingan produk fashion yang semakin luas, diferensiasi menjadi sangat penting. UMKM tidak akan selalu mampu bersaing dengan produsen besar dari sisi volume maupun harga.

Namun, UMKM memiliki keunggulan pada fleksibilitas, kreativitas, keunikan desain, dan kedekatan dengan cerita lokal. Keunggulan tersebut perlu dimaksimalkan.

Baca Juga: El Nino Hantam Pertanian Kaltim, 2.400 Hektare Sawah Kekeringan dan 200 Hektare Terancam Gagal Panen

Ida melihat pengembangan produk bisa berjalan beriringan dengan digitalisasi. Produk baru dapat diperkenalkan melalui media sosial dan marketplace untuk melihat respons konsumen.

“Jika respons pasar positif, produksi bisa ditingkatkan. Sebaliknya, produk yang kurang diminati dapat dievaluasi,” tuturnya.

Cara tersebut memungkinkan UMKM melakukan inovasi secara lebih terukur. Perkembangan digital memang memberikan ruang yang semakin besar bagi UMKM. Karena itu, pengayaan produk dan digitalisasi seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Produk yang inovatif membutuhkan pemasaran yang tepat. Sebaliknya, platform digital membutuhkan produk yang memiliki daya tarik agar konsumen mau berhenti, melihat, dan membeli.

Bagi Ida, kondisi ekonomi saat ini justru menjadi alasan bagi pelaku UMKM untuk lebih berani melakukan perubahan.

“Jangan takut mencoba produk baru. Karena kita tidak akan tahu pasar kita ada di mana kalau kita tidak pernah mencoba,” ujarnya.

Dengan memperkaya produk, memperkuat identitas lokal, memanfaatkan teknologi, dan membaca kebutuhan konsumen, UMKM fashion Kaltim memiliki peluang untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi batik dan tenun daerah. (rd)

Editor : Romdani.
Komjen Karyoto letjen lucky avianto ibu kota nusantara batik tulis Kutai Barat