KALTIMPOST.ID-Kaltim dinilai memiliki peluang besar menggarap pasar wisatawan mancanegara, khususnya kawasan Asia Tenggara.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi kunjungan wisata karena promosi destinasi dinilai masih menjadi pekerjaan rumah.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Balikpapan Joko Purwanto mengatakan, salah satu pasar potensial adalah wisatawan dari Malaysia.
Secara nasional, wisatawan Malaysia disebut menjadi salah satu penyumbang terbesar kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
“Yang wisatawan mancanegara dari Asia Tenggara yang masuk ke Indonesia itu paling besar adalah dari Malaysia. Itu sudah 1,5 juta masuk ke Indonesia, tapi rata-rata mereka masuknya ke Jawa, bukan masuk ke Kalimantan,” ungkap Joko.
Baca Juga: Bupati PPU Rangkap Kepala Otorita IKN Dinilai Bisa, tapi Hanya untuk Jangka Pendek
Menurutnya, kondisi tersebut cukup ironis karena secara geografis Kaltim memiliki kedekatan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, konektivitas penerbangan langsung ke Malaysia, Brunei, dan Singapura menjadi modal awal yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menarik wisatawan.
Namun, konektivitas saja dinilai belum cukup. Wisatawan perlu mengetahui produk wisata yang ditawarkan sebelum memutuskan membeli perjalanan.
“Kenapa Kalimantan tidak begitu banyak orang Malaysia datang ke sini? Karena belum ada promosi di sana. Kita belum pernah promosi di sana,” katanya.
Owner Trans Borneo Adventure Tours & Travel itu melihat promosi harus dilakukan secara aktif dan tidak hanya mengandalkan publikasi melalui kanal digital.
Untuk pasar internasional, menurutnya, pendekatan bisnis ke bisnis atau B2B memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan antara pelaku industri perjalanan di negara asal wisatawan dengan operator lokal di Kalimantan. “Kuncinya kalau kita mau maju, ayo berpromosi. Itu aja,” tegasnya.
Baca Juga: Pengamat Sebut Bupati PPU Memungkinkan Jadi kepala Otorita, tapi Hal Ini yang Perlu Dilakukan
Ia menilai anggapan bahwa promosi cukup dilakukan melalui media online tidak selalu tepat.
Pasar internasional membutuhkan penjelasan langsung mengenai produk, fasilitas, keamanan, akses, itinerary, hingga kepastian layanan.
“Jangan pernah menyepelekan, wah nggak usah promosi, pakai media online, nggak bisa. Karena promosi B2B itu adalah trust,” jelas Joko.
Dalam bisnis pariwisata internasional, kepercayaan menjadi faktor penting karena wisatawan membeli perjalanan jauh sebelum mereka tiba di destinasi.
Agen perjalanan di luar negeri harus yakin bahwa operator lokal mampu menyediakan layanan sesuai dengan paket yang ditawarkan.
Menurutnya, kondisi berbeda terjadi pada destinasi yang sudah sangat dikenal dunia. Bali, misalnya, tidak membutuhkan pengenalan destinasi dari nol karena nama tersebut telah melekat kuat dalam benak wisatawan internasional.
“Kalau kita kan belum. Kalau kita datang langsung menjelaskan ke mereka, mereka akan paham dan mereka akan pergi ke sini,” katanya.
Peluang pasar sebenarnya cukup besar. Selain Malaysia, wisatawan dari Australia juga memiliki potensi untuk digarap.
Kedekatan geografis Indonesia dengan Australia membuat Indonesia menjadi salah satu pilihan perjalanan yang menarik bagi masyarakat Australia.
Baca Juga: Ironi Kota Minyak, Balikpapan Punya Kilang Besar tapi Warganya Masih Antre Pertalite
Joko menilai faktor biaya menjadi salah satu daya tarik utama Indonesia bagi wisatawan Australia.
Biaya hotel dan makanan di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan pengeluaran yang harus mereka keluarkan di negara asal.
Ia melihat semakin banyaknya pilihan penerbangan dengan harga kompetitif dari Australia ke Indonesia menjadi faktor yang mendukung arus wisatawan.
Namun, sebagian besar wisatawan Australia masih menjadikan Bali sebagai tujuan utama. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan branding destinasi menjadi faktor yang sangat menentukan.
Tantangan bagi Kaltim adalah bagaimana menciptakan alasan baru agar wisatawan tidak berhenti di destinasi yang sudah populer.
Potensi alam, satwa, hutan, budaya, hingga pengalaman adventure dapat menjadi diferensiasi.
Joko menilai perubahan tren wisata global justru membuka peluang tersebut. Wisatawan dari kelompok ekonomi menengah atas di sejumlah negara mulai mencari pengalaman yang lebih alami dan tidak selalu berorientasi pada kehidupan perkotaan.
“Sekarang ini wisatawan sudah mengarah ke yang adventure juga. Karena sudah bosan dengan kehidupan kota, pengin yang alami juga,” tuturnya.
Kondisi itu sejalan dengan potensi Kalimantan yang memiliki kawasan hutan dan destinasi berbasis alam.
Namun, potensi tersebut harus dikemas menjadi produk wisata yang mudah dijual oleh agen perjalanan internasional.
Baca Juga: Sawah Mengering, Kaltim Belum Mampu Swasembada Beras, Defisit Mencapai 189 Ribu Ton
Promosi juga harus dilakukan secara konsisten. Tidak cukup hanya menggelar promosi satu kali, tetapi perlu membangun jaringan dengan agen perjalanan di negara target, mengundang buyer atau travel agent untuk mengenal langsung destinasi, serta memastikan informasi destinasi selalu diperbarui.
Di sisi lain, kepastian akses destinasi juga menjadi bagian dari promosi. Biro perjalanan akan kesulitan menjual sebuah destinasi apabila status operasionalnya tidak jelas atau sering berubah tanpa pemberitahuan.
“Karena itu, promosi dan tata kelola destinasi perlu berjalan beriringan. Promosi yang kuat dapat mendatangkan permintaan, tetapi kualitas layanan dan kepastian akses akan menentukan apakah wisatawan puas dan kembali merekomendasikan destinasi tersebut,” tuturnya.
Bagi Kaltim, pasar Asia Tenggara dapat menjadi pintu masuk yang strategis karena jaraknya relatif dekat dan memiliki konektivitas penerbangan.
Tinggal bagaimana potensi tersebut diubah menjadi kunjungan nyata melalui promosi yang lebih agresif, terarah, dan berbasis hubungan bisnis. “Kalau kita mau maju, ayo berpromosi,” pungkas Joko. (rd)
Editor : Romdani.